alfian mujaniQANAAH secara seder­hana adalah menerima dengan ikhlas apa yang Allah bagikan kepada kita. Sikan ini tak lagi mainstream. Berlomba untuk menjadi yang “ter” telah menjadikan ketulusan dan kelembu­tan hati sebagai sesuatu yang aneh. Yang main­stream adalah saling si­kut, saling fitnah, saling dengki, dan sejenisnya.

Qana’ah penting untuk menjadikan hidup kita tenang dan bahagia. Lihatlah kehidu­pan Syekh Juha dan isterinya yang senan­tiasa tersenyum dalam keterbatasan rizkinya. Setiap malam terdengar tawa kecil dari kamar di rumah kecilnya walau tak memiliki apapun untuk dimakan esok pagi. Suatu malam, pen­curi masuk ke rumahnya. Maling itu mengen­dap-endap mencari sesuatu. Syekh yang me­mang belum tidur berbisik kepada isterinya: “Nanti kalau maling ini menemukan sesuatu di rumah kita, kita kejar ya. Kok bisa dia temukan sesuatu di tempat yang tak ada sesuatunya.”

Setelah lama keliling tak temukan apap­un, maling itu lari keluar sambil teriak: “Nihil. Salah masuk. Ini bukan rumah, tapi kuburan. Tak ada apa-apanya kecuali tubuh pemilikn­ya.” Syek dan isterinya tertawa: “Ha ha ha ha, terbukti betul bahwa orang tak punya itu be­bas dari kemalingan. Makan esok adalah uru­san besok,” demikian bisik sang Syekh pada telinga kanan isterinya.

loading...