062001_astronotriaxeJAKARTA, TODAY — Indonesia patut bangga pada Rizman A Nugraha. Pria 26 tahun asal Bangka Belitung ini tak lama lagi menjadi orang Indonesia pertama yang akan terbang ke luar angkasa alias menjadi astronot.

Setelah gagal jadi pilot, Rizma is­eng mengikuti sebuah tantangan di se­buah iklan. Ini menjadi awal Rizman terpilih menjadi satu-satunya per­wakilan Indonesia yang akan mengi­kuti misi ke luar angkasa. Bermodal niat dan tekad, anak pertama dari 7 bersaudara itu ikut mencoba unjuk kemampuan untuk menjadi orang In­donesia pertama yang mampu ke luar angkasa.

“Awalnya karena ada sebuah peru­sahaan yang sedang mencari 3 orang finalis untuk space camp (misi ke luar angkasa). Saat itu ada 83 ribu orang yang mendaftar seluruh Indonesia, kemudian disaring,” ujar Rizman di kawasan Sudirman, Rabu (24/6/2015).

Untuk menyisihkan puluhan ribu pesaing pun rupanya memiliki banyak persyaratan. Berbagai tes akademis di­tempuh hingga akhirnya Rizman ber­hasil masuk ke dalam 40 besar peserta Indonesia yang akan menjalani Na­tional Space Camp di Jakarta pada September 2013 lalu. “Pada bulan Sep­tember 2013 kita diseleksi lagi dengan sejumlah tes, seperti tes baris-berbaris, lalu tes turun tali dari ketinggian 50 meter. Waktu itu dilatih oleh Polisi Udara di Pondok Cabe, walk climb­ing, flight simulator, lalu tes kesehatan dan tes Bahasa Inggris,” jelas dia.

Semua ujian berhasil dilalui Rizman hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu dari 3 finalis asal Indonesia yang akan bertarung dengan ratusan peserta dari 62 negara di Global Space Camp di Florida, Amerika Serikat pada Desember 2013 lalu. “Dari situ terpilih 3 orang dan dikirim ke Florida pada Desember 2013 selama 5 hari untuk ikut Golbal Ppace Camp dan di sana bergabung juga peserta dari 62 negara lain, dan total peserta kompetisi itu ada 107 peserta,” kata Rizman.

Di Florida, tantangan yang dihadapi Rizman serta 2 finalis lain asal Indonesia pun tak mudah. Berbagai ujian mental dan ketahanan fisik khas astronot pun dijalani selama 5 hari, hingga akhirnya Rizman berhasil terpilih menjadi satu-satunya per­wakilan Indonesia yang akan terbang ke luar angkasa bersama 22 peserta lainnya yang berasal dari seluruh dunia. “Rasanya tahu lolos seleksi final, shock sih awalnya, karena saya juga tidak terlalu menggebu-gebu. Tapi karena saya juga mengikuti tiap misi dengan sungguh-sungguh, tidak disangka-sangka saat pengumuman nama saya dipanggil. Jadi shock kaget dan ada rasa bangga juga,” kata Rizman.

Rizman mengaku senang, bangga ter­us yang pasti bersyukur karena ini rezekin­ya. ‘’Kalau dibilang takut ya takut karena ini percobaan seperti layaknya astronot za­man dulu dengan jiwa mereka yang pem­berani. Setidaknya ketika nanti kembali ke bumi bisa menjadi pahlawan,” kata dia sambil tersenyum.

Selama rangkaian misi pelatihan di Florida yang dipimpin oleh astronot se­nior Buzz Aldrin, Rizman telah berhasil mengemudikan pesawat Air Combat USA, menjalani latihan seperti layaknya seorang Astronot dalam Astronaut Assault Course dan membuktikan dirinya bisa mengatasi kekuatan ledakan dalam jenis latihan G-Force Mission di Kennedy Space Center.

Rizman akan terbang ke luar angkasa bersama seorang pilot dengan pesawat luar angkasa berteknologi mutakhir, kapa­sitas dua orang yaitu XCOR Lynx Mark II. Pesawat luar angkasa ini akan men­erbangkan Rizman setinggi 103 km dari Planet Bumi menembus batas luar angkasa dengan durasi perjalanan 60 menit. Ren­cananya, dia akan terbang bulan Desem­ber akhir tahun ini, atau paling lambat bu­lan Januari 2016.

Waktu Rizman di luar bumi hanya seki­tar enam menit saja. Dia akan menikmati pemandangan luar biasa yang tak semua orang bisa menikmatinya. “Sejak terbang dari Bumi kemudian melayang ke luar an­gkasa lalu kembali lagi ke Bumi itu mem­butuhkan waktu 45 sampai 60 menit saja, jadi termasuk cepat. Dan nanti di luar ang­kasanya itu cuma 6 menit,” kata dia.

Menurut Rizman, misi dari kompe­tisi ini hanyalah untuk mencari siapa saja yang sanggup melewati tantangan demi tantangan yang diberikan demi menjadi pemenang dan berhak mendapatkan ke­sempatan terbang ke luar angkasa. Meski pelatihan terbilang singkat, namun ujian yang dihadapi selama pelatihan di AS me­nyerupai latihan layaknya astronot.

Rizman juga menekankan bahwa pengertian Astronot selama ini memiliki makna yang berbeda. “Untuk kategori orang dapat dibilang astronot itu jika dia sudah bisa terbang dengan ketinggian 108,3 mdpl. Jika dia sudah terbang den­gan ketinggian seperti itu dia sudah layak disebut astronot. Jadi bukan yang kerja di NASA. Saya mengetahui hal tersebut se­lama melakukan pelatihan,” kata Rizman.

Sedikit catatan soal Buzz Aldrin. Dia adalah mantan astronot yang pernah ter­bang ke bulan. Tepatnya orang kedua yang menginjakkan kaki di bulan setelah Neil Armstrong. Mereka terbang ke bulan naik pesawat Apollo 11 pada 21 Juli 1969.

Pesawat yang menerbangkan Rizman adalah milik XCOR Aerospace. Menurut Rizman, dia dan 23 orang lain dari 23 neg­ara adalah orang-orang pertama yang akan menggunakan pesawat tersebut. Setelahn­ya, perusahaan tadi akan mengkomersil­kan perjalanan ke luar angkasa sebagai salah satu pilihan wisata. Tentu saja hanya untuk orang-orang berkocek tebal.

Dikutip dari situs XCOR.com, pesawat Lynkx Mark II adalah pesawat yang me­mang didesain untuk membawa manusia ke luar angkasa secara bolak-balik. Pesawat itu bisa digunakan kembali untuk men­gangkut penumpang lainnya atau disebut dengan reusable launch vehicle (RLV).

Lynkx Mark II berkapasitas dua orang dan mampu terbang ke luar orbit hingga berjarak 100 km. Konsep RLV memang ter­bilang baru, karena selama ini penerban­gan pesawat ulang alik lebih banyak meng­gunakan roket sekali jatuh lalu pesawatnya mengangkasa secara terpisah.

Pesawat ulang alik canggih ini diklaim bisa digunakan untuk 4 kali penerbangan sehari. Untuk Rizman, bila 23 orang, maka bisa jadi ada beberapa kali penerbangan dalam sehari. Pesawat ini juga diklaim terjamin keamanannya serta biaya per­awatannya yang tidak terlalu mahal. Se­luruh komponennya didesain untuk bisa bertahan menembus atmosfer dengan sistem perlindungan panas di hidung pe­sawat. Sayapnya sepanjang 9 meter dan didesain agar bisa mendarat dengan ke­cepatan 90 knot.

Konsep wisata ke luar angkasa me­mang sedang tren akhir-akhir ini. Selain XCOR Aerospace, ada juga grup Virgin yang menawarkan konsep serupa. Namun ongkosnya memang sangat mahal. Calon peserta harus mengisi aplikasi secara on­line dan membayar USD 250.000, atau setara dengan Rp 3,2 miliar per orangnya.

Sayangnya, saat percobaan penerban­gan pesawat SpaceShipTwo yang memiliki kapasitas enam orang dengan dua pilot yang mengoperasikannya, gagal. Pesawat tersebut kecelakaan saat hendak lepas lan­das dan kopilotnya tewas.

(Yuska Apitya Aji/dtk)