BOGOR TODAY – Bermodalkan tusukan sate dan stik es krim, seorang pria dua anak asal Kampung Baru Cijahe, RT6/1 Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor mengkreasikannya menjadi kerajinan tangan yang menarik.

Dia adalah Rusdian (31). Ian, sapaan akrabnya menceritakan terjun menekuni kerajinan tersebut sejak dua tahun lalu, saat itu, Ian mengaku kerajinan yang dibuatnya hanya untuk mengisi waktu luang di tengah-tengah kesibukannya sebagai driver ojek online (ojol).

Namun sejak wabah Covid-19 membuat dirinya harus kehilangan satu-satunya mata pencaharian yang menjadi sumber pendapatan untuk keluarganya, lantaran sepinya penumpang.

Namun kondisi itu tidak membuatnya patah semangat dan tetap berjuang di tengah kesulitan yang ada. Dia kini memulai usaha kecil dengan penuh ketekunan.

Dari tangan kreatifnya, Ian mampu menciptakan beragam kerajinan miniatur, seperti kendaraan truk, crane,
ekskavator atau mesin pengeruk, mushola lengkap dengan sajadahnya hingga jembatan merah Kebun Raya Bogor.

“Awalnya cuman iseng saja, enggak di seriusin, soalnya waktu itu saya juga kerja. Untuk idenya saya temukan saat di jalan saja, seperti crane saya liat di salah satu proyek baru saya aplikasikan di rumah selepas kerja,” tutur pria berkacamata itu kepada bogor-today.com, Minggu (20/9/2020).

Ia mengaku sementara ini hasil kerajinannya tidak dikomersilkan. Akan tetapi, ketika memang ada yang ingin membelinya dia mengizinkan.

“Setiap kerajinan yang sudah dibuat kan saya upload di medsos, banyak orang tertarik. Pernah ada yang ingin membeli dari Klaten juga Lombok tapi saya enggak dilepas karena kurang percaya diri,” ucapnya.

Tetapi, Ian menyebut jika memang ada yang berminat, dia mematok harga mulai Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu tergantung ukuran dan kesulitannya.

Dalam sehari, kata dia, tak menentu dapat menghasilkan berapa kerajinan karena dilihat dari kesulitan produk yang ia buat. Ian mencontohkan untuk membuat miniatur truk saja prosesnya bisa sampai satu mingguan lantaran peralatan yang digunakan masih manual.

“Masih manual alat-alatnya, seperti lem kayu, gunting, dan cutter. Sebenarnya sudah banyak hasil kerajinan yang saya buat, tapi banyak yang diminta, selain itu juga enggak ada tempat penyimpanannya,” tutupnya. (Bambang Supriyadi)