IMG_9721Sekitar seribu relawan ikut berpartisipasi dalam Tantangan Berbagi Buku yang digelar perusahaan komputer IBM bekerjasama dengan Yayasan Mitra Netra dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dihelat Senin (25/7/2016) di Plaza Balaikota Bgor. Para relawan yang berasal dari beragam kalangan mulai siswa SMA/ SMK, mahasiswa, hingga PNS dan komunitas, ikut ambil bagian sebagai kota kehormatan yang pertama kali melakukan tantangan ini.

Oleh : Yuska Apitya Aji
[email protected]

Country Manager CSR IBM Indonesia Santi Diansari Har­gianto mengatakan, latar belakang tantangan ini bermula dari gagasan tokoh relawan IBM Pandu Sastro­wardoyo yang mempunyai ga­gasan dari adanya sebuah per­aturan pengabaian hak cipta mengkonversi buku ke dalam braille bagi tuna netra. Mimpi ini kemudian coba diwujud­kan melalui Typing Challenge. nantinya tantangan ini akan terus bergulir, seperti tantan­gan Ice Bucket Challenge.

“Ajang ini juga bersama-sama mengajak membangun digital libraly bagi tuna netra bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra,” ujar Santi.

Penanggung Jawab Kampa­nye Tantangan Berbagi Buku Pandu Sastrowardoyo men­gatakan, butuh lebih banyak buku bagi tuna netra di Indo­nesia yang kini jumlah tuna netra sudah mencapai 3,5 juta orang. Hingga kini para tuna netra hanya bisa membaca le­wat jari saja. Sementara buku Blailer yang ada hanya 2800 judul buku saja. Padahal 10 ribu buku terpajang di Toko Buku.

“Dengan teknologi bisa membantu tuna netra mem­peroleh edukasi ini tentunya akan berhasil jika teman-te­man ikut membantu menge­tik buku yang nantinya akan dijadikan audio selain buku blailer,” jelas Pandu.

Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, dalam ajang ini Kota Bogor mengumpulkan ber­bagai elemen dari relawan yang mem­punyai komitmen membantu tuna netra. Melalui buku tuna netra dapat berkenalan dengan dunia. Maka, buku yang diketik harus­nya buku yang bisa menambah penge­tahuan tuna netra dan jangan semba­rang buku.

“Program yang san­gat mulia dan harus di­tularkan virusnya ke Kota Lain untuk mendorong ker­elawanan warga, maka saya tantang Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk bisa ber­bagi cinta dengan tuna netra,” tegas Bima.

Sementara itu, Ketua Yayas­an Mentari Hati Rani Novianti mengatakan, dengan adanya aplikasi ini membantu teman tuan netra menikmati teknolo­gi sehingga wawasan difabel bisa bertambah dan bisa mem­baca buku sama seperti orang lain. Sekalipun sebagai ke­lompok minoritas tetap dapat menjadi kelompok yang maju dan sukses.

“Kami belum mempunyai buku blailer sama sekali dan in­gin bekerja sama dengan Yayas­an Mitra Netra untuk mensup­port sekaligus mendapat buku blailer tentang hadist bagi 40 peyandang tuna netra yang dibi­na yayasannya,” jelas Ibu berker­udung itu.(Yuska Apitya/*)

 

loading...