Untitled-3BOGOR, Today – Kota Bogor memi­liki banyak peninggalan bangunan bersejarah yang terpelihara bahkan masih dimanfaatkan hingga saat ini. Salah satunya adalah Kartini School (Sekolah Kartini) yang saat ini menjadi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 9 yang berada di Jalan Kartini, Ke­camatan Bogor Tengah, Kota Bogor, awalnya meru­pakan sekolah kepandaian putri untuk meningkatkan taraf hidup dan pendidikan penduduk jajahan waktu itu.

Kartini School alias Seko­lah Kartini adalah sekolah khu­sus perempuan pribumi yang didirikan di sejumlah kota besar pada masa penudud­kan Belanda. Institusi pen­didikan tersebut terinspi­rasi perjuangan pahlawan emansipasi wanita Indone­sia, Raden Ajeng Kartini.

Salah satu lokasi berdirinya Kartini School sendiri berdiri pada tahun 1915, di kota yang dulu memiliki nama Buitenzorg ini berdiri sekolah dasar pertama bagi anak perempuan pribumi dari kalangan ter­pandang.

“Kartini School dibuka pertama kali pada 2 Mei 1915. Khusus perempuan pribumi yang kaya dan bangsawan. Setingkat dengan HIS (Hollandsch In­landsche School),” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf ) Kota Bo­gor, Syahlan Rasidi.

Corak arsitek khas Belan­da terlihat kokoh di gedung SMAN 9 Kota Bogor. Barisan pi­lar serta atap yang menjulang serta daun jendela panjang di lantai satu dan dua ban­gunan, masih terawat baik di bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 2.255 m2 itu. Begitu juga di lantai dua, lantai kayu jati tetap di gunakan. “Siswa sekolah yang semuanya perempuan terlihat diajari Bahasa Belanda oleh Miss Hammer,” jelasnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor Fahrudin yang pernah menjabat kepala seko­lah di SMAN 9 Bogor mengatakan bahwa bentuk bangunan sekolah ini masih asli seperti saat dibangun oleh Belanda dulu. Hanya ada sedikit perubahan, yakni ventilasi udara di bagian atap yang dihilangkan karena bocor atau ada rembesan air hujan.

“Sekolah ini su­dah beberapa kali reno­vasi, tetapi bentuk asli bangunan tetap diper­tahankan. Terakhir ta­hun 2009, waktu saya menjabat kepala sekolah. Lantai dua bangunan kita renovasi. Itu kan lantai dua dari kayu jati, buatan Belanda. Setelah lantai dua dibeton, kayu jati itu tetap kita pa­sang, sama seperti semula,” jelasnya.

Menurut Fahrudin, hal lain yang berubah pada sekolah ini adalah jumlah ruangan. Pada mulanya, sekolah ini memiliki tiga ru­angan atau lokal di lantai dua, sementara di lantai satu ada enam ruangan. Pasca dilaku­kan renovasi pada 2009 lalu, jumlah ruan­gan menjadi enam di atas dan sembilan di bawah.

“Sekolah ini sudah beberapa kali reno­vasi, tetapi bentuk asli bangunan tetap di­pertahankan. Terakhir tahun 2009, waktu saya menjabat kepala sekolah. Lantai dua bangunan kita renovasi. Itu kan lantai dua dari kayu jati, buatan Belanda. Setelah lan­tai dua dibeton, kayu jati itu tetap kita pas­ang, sama seperti semula,” jelasnya.

Menurut Fahrudin, hal lain yang berubah pada sekolah ini adalah jumlah ruangan. Pada mulanya, sekolah ini memiliki tiga ru­angan atau lokal di lantai dua, sementara di lantai satu ada enam ruangan. Pasca dilaku­kan renovasi pada 2009 lalu, jumlah ruangan menjadi enam di atas dan sembilan di bawah.

Fahrudin pun membagikan cerita me­narik mengenai lonceng di sekolah ini. Di mana sejak sekolah berubah menjadi SMAN 9, ada satu lonceng yang sering digunakan memberitahukan kepada siswa mengenai jam masuk dan keluar serta istirahat siswa. Lonceng ini acapkali digunakan ketika bel listrik mati.

“Jika listrik mati, bel listrik tidak bisa difungsikan, maka akan beralih ke lonceng tembaga buatan Belanda. Suaranya sangat keras, seperti bunyi lonceng gereja. Saat saya kepala sekolah, tempat gantungan lonceng itu dijadikan taman, sehingga lonceng itu pun dipensiunkan,” jelasnya.

Di lonceng tembaga ini ada tulisan ‘Gonst Winkel Soerabaya 1876’. Bentuknya masih asli, warna tembaga tanpa cat. Dan lonceng ini pun masih berfungsi dengan baik.

Menurut Fahmi, lonceng ini merupakan lonceng curian dari markas Belanda di La­pangan Sempur pada tahun 1945. Lonceng ini dicuri Suharma bersama seorang kawan­nya. Namun sial, aksi Suharma ini ketahuan Belanda. Lalu, lonceng dibuang di salah satu kolam yang saat ini sudah menjadi Taman Ekspresi.

“Setelah merasa aman dari Belanda, lalu diambil lagi sama Pak Suhar­ma. Lalu dibawa ke sekolah,” tukasnya.

(Latifa Fitria)