Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati Pendidikan & Pejuang Sekolah Pesat)

Banyak orang tua siswa yang mengeluhkan terkait SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) anaknya akibat wabah virus corona. Menanggapi keluhan orang tua tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor Fahrudin, menyatakan bahwa tidak bisa dipungkiri saat ini sekolah membutuhkan dana dari orangtua murid untuk operasional sekolah.

Kalau sekolah negeri tidak ada masalah. “Di swasta honor guru dari sekolah, di antaranya dari SPP sehingga sekolah sangat terbantu untuk membayar honor guru jika keuangan dari orangtua murid itu masuk,” ungkapnya, Kamis (30/4/2020).

Beliau menambahkan, “Memang diperlukan sikap gotong royong, keterbukaan, kerjasama saat seperti ini. Untuk orangtua yang mampu segera bantu sekolah untuk mengatasi operasionalnya. Untuk yang tidak mampu, jangan khawatir. Jangan terlalu jadi beban. Kita hanya mengimbau agar sekolah-sekolah paham dengan kondisi masyarakat. Tetapi masyarakat juga harus paham kondisi sekolah, bahwa sekolah memerlukan dana,” katanya.

Menurut penulis yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi virus corona adalah sekolah yang belum mampu dalam managemen keuangan. Akibat pandemi virus corona ini, penulis membagi sekolah secara ekonomi menjadi 3 golongan, yaitu:

Pertama, sekolah dengan kategori sekolah maju, mandiri dan berprestasi. Sekolah ini adalah sekolah yang sudah maju, dalam semua hal. Maju baik prestasi akademik, non akademik, management keuangannya sudah mandiri. Pokoknya sekolah ini sudah luar biasa dan banyak prestasinya di tingkat Kota/Kabupaten, Provinsi, Nasional bahkan Internasional.

Sekolah ini di masyarakat dapat julukan sekolah favorit. Yang pasti sekolah ini secara ekonomi, warga sekolahnya adalah ekonomi menengah ke atas. Di sini banyak anak pejabat, pengusaha dan tokoh masyarakat. Karena adanya aturan zonasi, memang ada satu dua peserta didiknya yang belum beruntung secara ekonomi.

Sekolah seperti ini dapat memberi solusi secara keuangan terhadap sekolah yang terkena dampak pandemi virus corona. Tinggal di buat program peduli dengan melibatkan seluruh stakeholders sekolah. Setelah donasi terkumpu, maka sekolah ini harus bin wajib memberikan bantuan kepada sekolah yang peserta didiknya memerlukan bantuan membayar SPP, akibat pandemi corona ini.

Kedua, sekolah dengan kategori sekolah sedang berkembang. Sekolah ini adalah sekolah pada umumnya (Kebanyakan sekolah yang ada). Ciri sekolah ini memang sedang berkembang, artinya punya prestasi tapi tidak sehebat sekolah yang sudah maju. Ciri lainnya sekolah sedang berkembang ya pasti punya kelebihan tapi juga banyak kekurangan. Sekolah ini juga sudah mandiri untuk bidang tertentu, tapi juga belum mandiri untuk bidang yang lain.

Sekolah kategori ini bisa menghidupi dirinya sendiri pada pandemi virus corona ini sudah bagus, syukur-syukur bisa membantu sedikit kepada sekolah yang peserta didiknya membutuhkan bantuan untuk membayar SPP, pada wabah ini. Misal dengan cara yang sangat mudah dengan mengedarkan keropak kepada peserta didik, dengan tetap mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah.

Ketiga, sekolah dengan kategori sekolah belum berkembang. Ciri sekolah ini sungguh memprihatinkan, muridnya sedikit, bahkan cenderung tiap tahun selalu berkurang dan bisa-bisa bubar. Kondisi gedung dan fasilitas sekolah juga menyedihkan serta tidak memenuhi standart nasional.

Seperti kata-kata yang terkenal, sekolah ini hidup segan mati tidak mau. Sekolah ini peserta didiknya secara ekonomi adalah menengah kebawah. Sekolah ini biasanya sekolah swasta dengan management yang tidak profesional. Atau sekolah ini terjadi konflik antara pengurusnya, sehingga yang menjadi korban adalah peserta didiknya.

Maka sekolah kategori ini, harus dibantu oleh sekolah kategori maju dan sekolah kategori sedang berkembang, mudah kan, tidak perlu repot-repot menunggu bantuan dari pemerintah. Itulah hebatnya masyarakat Indonesia yang mempunyai sifat gotong royong, seperti yang dikatakan oleh Kadisdik Kota Bogor Fahrudin. Jayalah Indonesiaku. (*)

loading...