Untitled-9AKSI tokoh kartun dan manga asal Negeri Sakura yang biasa disaksikan di televisi, hadir menyapa pecintanya di Hotel Salak sejak Sabtu dan Minggu (16-17/1/2016). Mereka adalah pecinta tokoh kartun Jepang yang mendadani dirinya mirip tokoh idolanya atau biasa dise­but dengan istilah cosplay. Aca­ra ini diadakan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP Bogor Hotel Institute (BHI) dalam pameran kebudayaan Jepang “Festival Bonenkai”.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Dengan merogoh kocek sebesar Rp 20 ribu, penonton dapat leluasa menelusuri aneka ma­cam budaya dan permainan Jepang. Festival sendiri dibuka mulai 08:00 WIB hingga petang. Selain itu, terdapat pula beberapa makanan khas Jepang yang bisa dicicipi oleh pengun­jung dengan cukup menukarkan kupon di stan-stan yang telah disediakan pani­tia.

Rentetan caranya juga beragam, ti­dak hanya pertunjukan aksi para tokoh kartu jepang saja. Mulai dari dance je­pang, karaoke, japan music clip, Taiko performance, foto boots dengan meng­gunakan pakaian adat Jepang dan ma­sih banyak lagi.

Direktur STP BHI, Agung Jati Waluyo mengatakan festival ini rutin digelar seyiap tahunnya dengan animo pengunjung yang t erus meningkat se­tiap tahun. “Target kita selama dua hari penyelenggaraan, pengunjung dapat mencapai ratusan orang. Dan itu ter­capai, puncak acara disuguhkan pesta kembang api di area swimming pool Hotel Salak” ujarnya, kemarin.

Ia menerangkan, upacara ini seb­agai bentuk rasa syukur terhadap sang pencipta atas rezeki yang diberikan kepada masyarakat Jepang. “Acara Festival Bonnenkai ini telah menjadi acara tahunan STP BHI, selain untuk memperkenalkan budaya Jepang ke­pada masyarakat, hal ini juga melatih mahasiswa dan mahasiswi BHI dalam mengatur sebuah event karena mereka berpartisipasi dalam kepanitian acara ini,” tuturnya.

Ditambahkan Agung, susunan kepanitaan berasal dari mahasiswa BHI bertujuan memberikan pengalaman kepada mereka dalam mengorganisir suatu acara.

“Apalagi mereka kan akan menjadi duta bangsa jika bekerja di luar negeri. Tentunya, harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bekerja di negara asing,” tandasnya.

Festival Bonenkai menarik per­hatian beberapa pengunjung yang mengaku menyukai kartun Jepang. Seperti Rini misalnya yang sangat menggemar karakter tokoh Ham­taro. Menurut gadis 19 tahun ini, yang menarik dari Jepang selain teknologi ada pada keunggulannya dalam mengemas gambar mati men­jadi hidup. “Saya sendiri sih inginnya ada film kartun asli buatan negeri send­iri yang menarik minat anak muda,” pungkasnya.

Seperti yang diketahui, bonenkai merupakan tradisi yang rutin di­lakukan masyarakat Negeri Sakura di akhir tahun. Bonenkai memiliki arti pesta melupakan tahun lalu. Meski Bonenkai prinsipnya adalah pesta minum-minum, perayaan ini mengandung makna yang dalam. Bonenkai bermakna untuk menga­jak kita untuk membiarkan yang lalu itu berlalu, dan mengajak untuk me­mandang hidup ke depan.