BOGOR TODAY – Jumlah angkutan kota (angkot) berumur tua di Kota Bogor kini semakin berkurang, hal itu karena angkot-angkot yang usianya lebih dari 20 tahun direduksi oleh Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Perhubungan (Dishub).

Tercatat, sejak dilakukannya pada Februari hingga Agustus 2020 kamarin, angkot tua yang masuk ke dalam reduksi mencapai 100 unit. Pencapaian ini pun diapresiasi Wakil Wali Kota Bogor, Dedie Rachim saat menghadiri Hari Perhubungan Nasional di Kantor Dishub Kota Bogor, Rabu (23/9/2020).

Dedie mengatakan, bahwa reduksi angkot ini merupakan salah satu bagian dari program konversi dan reruting yang dilakukan oleh Pemkot. Sehingga, dari reduksi ini bertujuan untuk mengurangi jumlah angkot-angkot yang usianya sudah tua atau sudah melebihi 20 tahun keatas, dan hasilnya pun terbukti dari jumlah 3412 unit itu yang sudah direduksi ada 100 unit.

“Jadi yang pertama, progres ini terus berjalan yang prioritas itu kan ada yang namanya reduksi angkot, reduksi angkot ini dikaitkan dengan program konfeersi dan rerutiing. Jadi sampai dengan bulan Agustus kemarin dari 3412 angkot yang sudah kita reduksi ada 100,” kata Dedie didampingi Kepala Dishub Kota Bogor Eko Prabowo.

Ia pun berharap hingga akhir tahun 2020 ini, reduksi angkot bisa bertambah mungkin 100 lagi. Setelah itu, secara simultan pemkot terus untuk melakukan konversi. Menurutnya, konversi itu sebagai upaya dalam memberikan pelayanan kepada publik, karena mengganti angkot tua menjadi angkot yang nyaman dan bersih, sehingga nantinya akan terlayani dengan baik.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Eko Prabowo mengatakan, reduksi angkot itu bagian dari skala prioritas yang dilakukan Dishub. Meski menjadi skala prioritas namun dalam pelaksanaannya tanpa anggaran. Akan tetapi, pihaknya bisa melaksanakannya hingga per Agustus kemarin sudah ada 100 unit yang direduksi.

“Skala prioritas kita sama seperti yang disampaikan pak wakil kita tadi, kita sampaikan ini tanpa anggaran, reduksi ini juga tanpa anggaran. Nanti diperubahan saya cek dulu karena ada evaluasi jaringan trayek yaitu untuk mensinkronkan reduksi ini. Sedangkan, dari 3412 angkot pada bulan Februari akhir sampai saat ini akhir Agustus itu sudah kurang 100,” katanya.

Lanjut Eko, yang mengikuti reduksi itu angkot 21 di 5 trayek utama. Kemudian, program reduksi ini diperlebar ke 8 trayek lainnya, supaya bersama-sama mengikuti program ini.

Selain itu, Dishub juga saat ini sedang menilik program pusat yaitu BTS. “Nah, BST itu pelayanan bus yang subsidinya dari pemerintah pusat. Kita baru matangkan, kita baru ukur, proposal kita sudah ajukan, koridor yang kita ajukan waktu itu 7 sesuai koridor transpakuan dan untuk awal ada tiga atau 4 dulu, yaitu jalur SSA, Kapten Muslihat, dan ada yang ke Cidangiang. Sekian miliar informasinya kita akan dapat bantuan untuk BST ini,” ujarnya.

Namun sebelum dimulai, pihaknya akan menyampaikan hal ini ke badan hukum. Sehingga nantinya badan hukum yang mana yang mau. “PDJT jelas bukan sebagai pelaksana, tapi mereka sebagai operatornya. Nanti ke bawahnya teman-teman itulah badan hukum yang jalankan, apakah nanti sistemnya sewa busnya atau bagaimana, karena itu penuh tidak penuh harus berangkat karena sopirnya sudah di gaji,” pungkasnya. (Heri)