Untitled-14SALAH satu kunci sukses keberjayaan Pakuan di masa lalu, adalah terbinanya kesalehan sosial yang dimulai dari kesalehan pribadi.

Bang Sem Haesy

DITANDAI dengan konsistensi dalam menegakkan ajaran aga­ma sebagai cara untuk menca­pai harmoni hubungan manu­sia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan ma­nusia dengan Tuhan. Dalam San­ghyang Siksakandang Karesian, disebut hubungan dengan Hyang.

Hal itu diperkuat lagi, ketika orang-orang bijak yang diutus Maulana Yusuf mengajarkan tentang, hamblumminal alaam – hubungan manusia dengan se­mesta dan hablumminannaas – hubungan antar manusia, untuk mempertegas hablumminallah – hubungan manusia dengan Allah Maha Pencipta.

Kesalahan pribadi yang berkembang sebagai kesalehan so­sial itu mewujud dalam kerja cer­das, kerja keras, dan kerja ikhlas, sebagai manifestasi dari puja dalam ben­tuk kerja nyata manusia. Kesemua itu akhirnya berkembang menjadi kerja ber­basis sukacita. Antara lain dalam mengo­lah ladang, mengolah sawah, dan men­golah serang besar (peladangan kolektif untuk kepentingan bersama) yang nilai kemanfaatannya adalah kebersamaan dalam menjalani kehidupan (Maka rasa puja nyanggraha ka hyang ka dewata, Anggeus ma jaga rang dipigunakeun ka gaga ka sawah ka serang ageung).

Kerja individual dan kolektif juga dilakukan dalam merawat alam yang berkaitan langsung dengan kemanfaatan hidup manusia secara kolektif. Yaitu, melakukan inspeksi dan penurapan atas tepian atau tebing sungai agar kokoh (dan tidak longsor). Antara lain dengan menanam pepohonan yang dapat diam­bil manfaatnya secara langsung untuk kepentingan sehari-hari. Sekaligus perdu yang tumbuh di bawahnya dapat diman­faatkan sebagai obat.

Kerja individual dan kolektif juga dilakukan dalam hal menggali saluran agar sawah dan ladang sebagai tempat mengolah nafkah dalam keadaan baik, sehingga sawah dan ladangnya produk­tif. Bersamaan dengan itu, sebagian masyarakat lain mengimbanginya den­gan mengurus ternak bagi kepentingan masyarakat memperoleh sumber pro­tein hewan yang baik.

Agar tak diganggu dan dirusak oleh mereka yang memang gemar merusak, bersama-sama pula memasang ranjau tajam, yang ditandai agar tidak melukai diri sendiri. Hal itu, berbarengan dengan kerja membuat bendungan di sebagian aliran sungai. Termasuk memelihara em­pang untuk mengembang-biakan ikan bagi kepentingan pemenuhan protein masyarakat secara kolektif.

Di empang atau embung itu kha­layak ngecrik, menjala, merentang dan menarik jaring, atau menangguk ikan. Semua dilakukan dengan sukacita, tidak dengan kasalah apalagi marah-marah dan uring-uringan. Intinya adalah kerja ikhlas yang akan membawa kebaikan bersama.

Kesemua itu, dalam Sanghyang Siksa­kandang Karesian disebut: ngikis, marigi, ngandang, ngaburang, marak, mu(n)day, ngadodoger, mangpayang. nyair bi(n)cang; sing sawatek guna tohaan, ulah sungsut, ulah surah, ulah purik deung giringsing, pahi sukakeun sareyanana.

Kesemua itu merupakan kerja yang mengikuti alur hidup yang bermanfaat secara individual dan sosial. Dalam konteks kekinian, esensi dari apa yang diisyaratkan dalam Sanghyang Siksakan­dang Karesian, itu adalah bekerja di se­luruh lapangan kehidupan berbasis kesa­daran religius. Intinya adalah : manusia harus memberi manfaat atas seluruh hal yang sudah Tuhan berikan kepadanya.

Siapa memberi manfaat dia akan memperoleh faedah. Inilah hakekat dari kesalehan sosial.

loading...