DEPOK TODAY – Berakhirnya masa jabatan Walikota Depok, Mohammad Idris tahun 2021 dan masih banyaknya pekerjaan rumah yang hingga kini masih belum tertangani dan terpenuhi, menjadi permasalahan tersendiri bagi walikota yang akan datang. program jangka menengah yang masih banyak hingga kini menjadi persoalan dan hingga kini masih dalam proses.

“kita alhamdullilah mengikuti RPJMB, jangka menengah kota Depok yang ada, tetapi belum semuanya terpenuhi, terutama janji janji Walikota, itu belum terpenuhi, karena masih dalam proses,kan berakhirnya nanti 2021 itu juga pertengahan bulan juni, nah itu baru closing dan baru menganti pemerintahan yang baru,” kata Sekertaris Daerah (Sekda) Kota Depok, Hardiono kepada Bogor Today, Minggu (28/06/2020).

Hardiono juga mengatakan, guna melakukan perecepatan, nantinya walikota yang akan datang harus melakukan akselarasi, proses percepatan pembangunan tidak hanya dialami Kota Depok, melainkan seluruh dunia terkena imbas dari pandemic Covid 19.

“untuk percepatan pembangunan sudah barang tentu, di perencananaan yang 2021 ini, kita harus melakukan akselarasi, janji janji yang belum terpenuhi kita harus segera selesaikan, hanya saja kita mengalami problem, terkait pandemic Covid, karena tidak hanya Depok saja, tetapi seluruh dunia,” ujarnya.

Selain itu, Hardiono juga menyikapi, permasalahan ekonomi dan kenaikan peningkatan penduduk, pengangguran saat ini di Kota Depok, dan menjadi permasalahan tersendiri. Angka kelahiran yang cukup tinggi dan semakin naik setiap tahunya hingga pertumbuhan drastis meningkat dan di barengi dengan jumlah pengangguran semakin tinggi.

“Jadi Depok ini kalau dari sisi perekonomian dan pembangunan, harus di bangun perekonomian kerakyatan, terlebih dalam suasana seperti ini, kita harus segera bangkit, kalau untuk pembangunan fisiknya, terutama perumahan, perumahan penduduk harus ada pengendalian, karena apa, sekarang kondisinya setiap tahunya tumbuh, sehingga pertembuhan kota depok sudah cukup padat, rata rata pertumbuhan kelahiran dan migrasi, kalua setiap tahunya meningkat, maka dampaknya cukup banyak nanti. Jika di presentasi kenaikanya 100 ribu di kali jumlah kenaikan penduduk,” pintanya.

Ia juga mengatakan, Kota Depok kini memasuki fase Bonus Typografi, artinya jumlah penduduk kota Depok yang kini semkin bertambah, harus memanfaatkan usia produktif dalam menjalankan roda pembangunan dan mengurangi tingkat pembangunan kota Depok, karena kodisinya saat ini kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat di Kota Depok.

“jika untuk SDM, terutama ASM, dibandikan dengan jumlah penduduk mungkin sekitar tujuh ribuan, tapi jika Depok dibandingkan usia produktif, jadi kemungkinan sekarang ini Depok masuk dalam suasana bonus typografi, sehingga harus memanfaatkan usia produktif,untuk pembangunan di kota Depok, hanya saja kondisinya seperti ini, dampak yang di hadapi, kemiskinan dan pengangguran, dan ini menjadi tantangan pemerintah kota Depok, tahun mendatang kita harus bangkit ,mengembalikan seperti itu, supaya bisa bangkit lagi kota Depok,” paparnya.

Sementara Harisono juga berharap, nantinya Depok dapat menjadi Kota cerdas dan di dukung dengan Sumber daya Manusia yang baik dan cerdas serta di dukung dengan IT yang memadai, hingga Depok dapat bangkit kembali menjadi kota Cerdas.

“Secara pribadi, dari sisi SDM, Depok ini harus cerdas, jadi kalau orang sudah cerdas, maka semuanya bisa diatur secra baik, jika tidak cerdas, dikasih tahu berbagai macam hal susah juga, kalau bisa Depok menjadi kota cerdas, dan di dukung dengan IT yang baik,” tandasnya. (Areinta)