BOGOR TODAY – Jauh dari hingar bingar kota, rupanya masih ada masyarakat yang tinggal di Bumi Tegar Beriman yang hidupnya sangat memprihatinkan. Ditambah lagi, selama pandemi Covid-19 melanda bumi pertiwi, ada puluhan kepala keluarga (KK) tidak mampu di Kampung Malati, Desa Singasari, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor belum menerima bantuan dampak pamdemi Covid-19 dari pemerintah maupun pihak-pihak lainnya.

Melihat kondisi tersebut, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laskar Maung Bodas (LMB) terketuk hatinya untuk ikut membantu memberikan sembako kepada puluhan warga tersebut.

“Kami dapat laporan dari masyarakat, ada warga prasejahtera yang belum mendapatkan bantuan Covid-19, baik itu dari pemerintah maupun dari komunitas masyarakat. Karena itu, kami datang untuk melihat yang sebenarnya seperti apa, sekaligus memberikan bingkisan agar sedikit meringankan beban mereka,” kata Wakil Ketua LMB, Agus Rahya, Selasa (30/6/2020).

Menurut Rahya sapaan akrabnya mengatakan, total warga tidak mampu yang belum mendapat bantuan dampak covid-19 itu sementara ada sekitar 20 KK yang tersebar di beberapa RT dan RW yakni RT 01 dan RT 02, RW 07 dan RT 02 RW 08 Desa Singasari, Kecamatan Jongggol Kabupaten Bogor.

“Untuk jumlah yang belum dapat bantuan sekitar 20 KK. Namun, untuk rincian pastinya kita juga masih mendata lantaran di khawatirkan ada yang sudah dapat tapi bilangnya belum,” Kata Rahya.

Saat melakukan pembagian sembako, lanjut Rahya, dirinya mendapatkan keluhan dari salah satu warga terkait ada dua keluarga yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bahkan bisa dibilang keluarga tersebut dikategorikan keluarga tidak mampu.

Ketika disambangi kediamannya, keadaan rumah mereka sudah tidak layak huni alias reot dan tidak memiliki penerangan listrik, ketika malam hari mereka hanya mengandalkan lampu semprong. Kedua warga tersebut ialah, Sumi warga Kp Melati Rt.01/07, dan Onim Kp Malati Rt. 02/07 Desa Singasari Kecamatan Jonggol Kabupaten Bogor.

“Malam hari orang lain memakai sarana penerangan Listrik, namun Sumi dan Onim memakai sarana penerangan lampu semprong yang terbuat dari kaleng susu, bahan bakarnya dari Solar karena minyak tanah sudah langka. Sehingga kembali ke tahun 1980 an Bogor Timur (Botim) gelap gulita belum ada sarana penerangan listrik. Sembako dari Pemda Bogor, Provinsi, maupun Pusat belum menerima. Saya memohon agar para Wakil Rakyat DPRD Kabupaten Bogor yang berangkat dari Dapil II Botim, segera melakukan kunjungan ke Lokasi tersebut dan mengambil langkah dan upaya untuk renovasi rumah warga tersebut,” pintanya. (Bambang Supriyadi)