BOGOR TODAY – Teror yang dilakukan kelompok militan Is­lamic State of Iraq dan Syria (ISIS) di sejumlah negara membuat Indonesia wajib membuat langkah antisipasi dari kemungkinan buruk aksi teror tersebut. Fakta bahwa ISIS telah banyak ‘mera­cuni’ Warga Negara Indonesia (WNI) dengan paham-paham kekerasan yang mengatasnamakan agama, serta pemahaman yang salah tentang jihad, menjadi dasar bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk membentengi Nega­ra Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman teror dan pecah belah ala ISIS.

“Ancaman terorisme (ISIS) telah menjadi ancaman global. Contoh terhangat adalah teror Paris dan bom Mal Alam Sutera. Dari dua kasus itu, mereka menggunakan materi bom canggih serta tanpa detonator. Materialnya sederhana berupa cat dan tiner dan itu bisa dipelajarai di internet. Intinya kita tidak boleh menyepelekan sekecil dan seremeh apapun ancaman teroris. Kita harus perkuat seluruh lini bangsa demi melawan berbagai upaya yang berbau terorisme,” ujar Kepala BNPT, Saud Usman Nasution di Jakarta, Jumat (4/12/2015).

Berbagai upaya telah dilakukan BNPT dalam mencegah an­caman terorisme berupa kontra ideologi, kontra propaganda, kontra narasi, dan kontra radikal dengan melakukan sosialisasi dan dialog, pencanangan tahun damai di dunia maya, dengan menggandeng berbagai lembaga terkait. Selain itu, BNPT se­bagai badan yang bertugas sebagai koordinator dalam pence­gahan terorisme ini telah menyiapkan prosedur standar op­erasional (SOP) pengawasan daerah perbatasan, perlindungan obyek vital dan lingkungan strategis, juga melakukan program deradikalisasi baik di dalam Lembaga Pemasyarakat (Lapas) maupun di luar Lapas, dan lain-lain.

Upaya lainnya adalah membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di setiap provinsi. Saat ini dari 34 provinsi, BNPT telah membentuk 32 FKPT, tinggal Provinsi Papua dan Papua Barat yang rencananya akan dibentuk tahun 2015. Pembentukan FKPT ini bertujuan untuk memantau seke­cil mungkin situasi dan kondisi terkait ancaman terorisme di daerah. FKPT Kalimantan Utara (Kaltara) adalah FKPT terakhir yang dibentuk BNPT, 2 Desember kemarin di ibukota Provinsi Kaltara, Tanjung Selor.

Saat ini, BNPT juga menyelesaikan SOP pengawasan dae­rah perbatasan. Itu dilakukan setelah adanya deportasi besar-besaran WNI dari Malaysia. Menurut Dr Saud Usman pihaknya wajib mengantispasi WNI yang baru pulang dari luar negeri, terutama Malaysia dengan dalih tenaga kerja ilegal.

“Tidak hanya WNI yang disinyalir akan pulang atau pergi ke luar negeri (Suriah), tapi kami juga mengantisipasi WNI yang baru pulang dari luar negeri. Ini dilakukan karena kami men­duga sebagian dari WNI itu merupakan anggota jaringan teror­isme yang sengaja memanfaatkan jalur TKI ilegal untuk kem­bali ke Indonesia dan nantinya membuat teror di sini. Untuk itu, semua lini harus waspada, terutama pintu keluar masuk perbatasan,” ungkap Dr Saud Usman.

Menurut Saud Usman, pengawasan wilayah perbatasan dari ancaman terorisme adalah salah satu bagian dari upaya BNPT dalam melakukan pencegahan terorisme. Ia berharap kedepan pencegahan terorisme di Indonesia semakin masif seperti yang telah dilakukan melalui dialog, workshop, dan pencanangan tahun damai di dunia maya.

Ia melanjutkan bahwa dalam urusan terorisme, Indonesia pernah merasakan dampak langsung akibat lemahnya sistem pengawasan di wilayah ini. Pergerakan organisasi teroris trans­nasional di beberapa tahun silam, seperti yang dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiyah, bertumpu pada wilayah perba­tasan ini. Bahkan sejumlah gembong teroris seperti seperti Aza­hari dan Noordin M Top terbukti menggerakkan kelompoknya melewati perbatasan Filipina-Malasyia-Indonesia. Pergerakan kelompok teroris di wilayah ini tidak terbatas hanya pada pe­nyelundupan para pelaku teroris saja, melainkan juga peny­elundupan senjata yang digunakan untuk kegiatan terorisme.

Disamping itu, daerah perbatasan seperti Kepulauan Riau, Ka­limantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara yang selama ini, juga sering menjadi persembunyian. “Jadi kepada masyarakat di­harapkan partisipasi aktif dalam pencegahan terorisme ini dengan memberikan informasi kepada aparat bilamana di lingkungnnya ada kegiatan mencurigakan dari sekelompok orang yang ekslusif dan tidak mau bersosialisasi dan malah mengkafirkan orang lain,” tukas Saud.

(Yuska Apitya/*) intennadya