Berita-2

JAKARTA, Today – Rencana divestasi saham anak usaha PT First Media Tbk (KBLV), yakni PT Link Net Tbk (LINK) terus bergulir. Lippo Grup dikabar­kan menawarkan harga cukup premium terhadap penjua­lan saham LINK. Harga tinggi inilah yang membuat proses penjualan berjalan alot.

Lippo membuka harga penjualan sebesar 1 miliar dol­lar AS atau mencapai Rp 13,1 triliun. Saat ini, Link Net ten­gah mencari beberapa investor strategis yang berminat untuk mengakuisisi sahamnya.

Salah satu perusahaan yang dibidik adalah MNC Grup. Sampai saat ini, pihak penjual dan calon pembeli masih mel­akukan negosiasi harga. Meski menjajaki beberapa investor strategis, MNC digadang-ga­dang menjadi calon pembeli terkuat karena punya dana kas yang besar. Namun, sam­pai saat ini belum terjadi kes­epakatan harga dengan MNC.

Untuk memuluskan aksi korporasi itu, Lippo Grup su­dah menunjuk Credit Suisse dan Citi Grup sebagai advisor. “MNC memiliki dana kas yang sangat besar. Sehingga, dengan harga yang sangat premium, MNC menjadi tidak ada sain­gannya. Namun harganya ter­lalu tinggi. Mereka juga masih coba negosiasi,” ujar sumber Kontan, pekan lalu.

Manajemen LINK dan pihak Lippo Grup sendiri masih eng­gan menanggapi penjualan saham ini. Namun, Hary Ta­noesoedibjo, CEO MNC Grup mengakui ada penawaran tersebut. Namun, ia masih ber­pikir ulang karena harga yang ditawarkan Lippo terlalu ting­gi. “Akuisisi itu, kita harus lihat harganya bagaimana. Kalau cocok, jalan,” ujar Hary belum lama ini.

Baca Juga :  Bau Tak Sedap Dikeluhkan Wali Murid SDN Bangka 3 Bogor

Hary tertarik menguasai Link Net karena ingin mem­perbesar bisnis broadband yang menjadi bisnis baru MNC Grup. Jika berhasil mengakui­sisi Link Net, MNC Grup akan melakukan sinergi dengan televisi berbayar (pay TV) mi­liknya. “Kami tidak hanya ingin mengembangkan pay TV saja, tetapi juga pay TV yang ada in­ternetnya,” ujarnya.

Dengan begitu, MNC bisa makin mendominasi pangsa pasar di bisnis tersebut. Saat ini, saham LINK dikendalikan oleh KBLV yang menggenggam 33,8 persen saham LINK. Pada November 2014 lalu, KBLV dan CVC melakukan divestasi atas 11 persen saham LINK dan mer­aup dana segar Rp 4,2 triliun.

KBLV yang saat itu memi­liki 41 persen saham LINK me­lepas 226,67 juta saham atau 7,45 persen saham di harga Rp 6.000 per saham. KBLV me­lepas saham tersebut kepada tiga bank, yakni Credit Suisse (Singapore) Limited, Gold­man Sachs International, dan CIMB Bank Berhad Cabang Labuan Offshore. Ketiganya menjual kembali saham itu kepada investor institusi inte­nasional.

Dus, dari aksi korporasi itu, KBLV resmi mengantongi dana sebesar Rp 1,36 triliun. Dana itu digunakan KBLV untuk ek­spansi fiber optik dan bayar utang. Sementara pemegang saham Link Net lainnya, CVC Capital Partners Ltd yang me­lepas 473,13 juta saham atau sekitar 15,55 persen saham di harga yang sama. Dengan be­gitu, CVC mereguk dana hingga Rp 2,83 triliun.

Baca Juga :  DPRD Ngopi Bareng Wartawan se-Kota Bogor

Saat ini, total kapitalisasi pasar Link Net di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya Rp 16,88 triliun. Namun memang, ki­nerjanya sudah bertumbuh beberapa kali lipat. Tahun ini, Link Net menargetkan penda­patan bisa naik mencapai Rp 2,73 triliun. Nilai ini tumbuh 28 persen dari raihan 2014 yang mencapai Rp 2,13 triliun.

Dengan target tersebut, artinya pendapatan pada kuartal I-2015 yang mencapai Rp 599,94 miliar baru men­capai 21,98 persen dari target pendapatannya. Sementara, untuk laba bersih tahun ini diharapkan bisa tetap tum­buh 25 persen-28 persen dari tahun lalu.

Lippo Grup berniat mendi­vestasi Link Net lantaran ingin berfokus pada bisnis utamanya di bidang properti. Setelah tumbuh lebih dari empat kali lipat, Lippo merasa sudah saatnya melepas anak usah­anya tersebut. Penjualan itu juga dikabarkan didukung oleh pemegang saham Link Net lain­nya, CVC Capital Partners Ltd.

(Adil | net)