Untitled-16

HARGA sembako di sejumlah pasar tradisional mulai merangkak naik. Ini terjadi justru tiga minggu menjelang Ramadan tiba, saat mayoritas warga negeri ini hendak menjalankan ibadah puasa. Kenaikan signifikan terjadi pada komoditas telur ayam dan gula pasir. Dua komoditas ini diakui pedagang mulai susah didapat lantaran harga mengalami fluktuasi setiap harinya.

RIZKI DEWANTARA|YUSKA APITYA
[email protected]

Survei pasar yang dilakukan BOGOR TODAY pada Minggu(24/5/2015) menyebutkan, pedagang di hampir seluruh pasar tradisional di Kota Bogor mulai khawatir, pemain pasar berkeliaran. Termasuk kegalauan pedagang menghadapi isu peredaran beras plastik dan penimbunan beras. Muhamad Ramli(47), pedagang sembako di Pasar Anyar, mengaku terpaksa menjual atau mengecer gula pasir Rp12.500 per kg dan telur Rp21.000 per kg. “Sebenarnya kenaikan harga gula pasir dan telur ayam ras ini sudah terjadi dua minggu yang lalu. Harga-harga selalu berubah hampir setiap hari,” keluhnya. Ramli curhat, seminggu lalu, harga telur masih berada di angka Rp16 ribu per kilogram. Namun, seminggu terakhir, harga telur mulai labil dan naik terus. “Kita cuma khawatir, telur ditimbun tapi pembeli tidak tahu. Namanya pembeli kan taunya cuma beli. Padahal, kita grosir juga pusing mikirinnya,” kata dia, berkelakar.

Satu suara, Chairul Syam(45), pedagang grosir gula pasir di Pasar Anyar mengeluhkan kelabilan harga yang dialami sejumlah komoditas menjelang Ramadan. Ia menyebut, harga gula pasir saat ini Rp11.250 per kilogram. Angka ini naik dari harga sebelumnya Rp9 000 per kilogram. “Naik terus sejak seminggu ini,” celotehnya.
Menurutnya, naiknya harga gula pasir ini dipengaruhi banyaknya permintaan masyarakat jelang Ramadan. “Jika permintaan naik, harga ikut naik. Saya baca di koran HPP (harga patokan produsksi) gula juga kan sudah naik,” kata dia.

Baca Juga :  7 Tradisi Unik Sambut Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Berbagai Daerah

Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, Mangahit Sinaga, mengatakan, kenaikan harga sembako seperti gula pasir dan telur ayam ras ini merupakan tren yang terjadi menjelang Ramadan dan Idul Fitri. “Kenaikannya kan belum 10 persen. Nanti kalau sudah 10 persen kita akan gelar operasi pasar,” katanya.
Mangahit mengatakan, harga gula pasir sesuai ketentuan pemerintah pada kisaran Rp13.000 per kg. Untuk Kota Bogor, harga itu masih di bawah ketentuan pemerintah. Ada pun, harga telur ayam yang berkisar Rp18.500 di tingkat grosir dan Rp21.000 di tingkat pedagang, ditegaskan kalau itu sudah melebihi ketentuan pemerintah. “Kalau secara nasional, harga telur ayam Rp18.000 per kg. Untuk harga telur memang ada kenaikan sedikit,” tuturnya.
Terpisah, Dirut PD Pasar Pakuanjaya Andri Latief Asikin, mengatakan, pihaknya akan mengecek dan memastikan harga pasar. “Mungkin minggu depan kita akan cek pasar satu-persatu. Kalau melihat daftar harga saat ini, kenaikannya masih normal,” kata dia.

Ada Mafia Beras

Kondisi serupa dialami pedagang beras. Harga beras di pasaran rata-rata masih di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Hal ini tecermin dari harga beras jenis medium yang banyak dijual para pedagang di beberapa pasar di Jabodetabek.
Suherman (40), pedagang beras di Pasar Cibinong, Bogor, mengatakan bahwa harga beras saat ini Rp8.125 per kilogram (kg) atau setara dengan Rp6.500 per liter. Dia membantah adanya beras seharga Rp6.500 per kilogram (kg), yang benar harganya Rp6.500 per liter atau setara dengan Rp8.125 per kg. “Jadi, yang benar itu Rp8.125 per kg, bukan Rp6.500 per kg. Tidak ada beras seharga itu. Kalau Rp6.500 per liter iya, karena liter dengan kg itu beda,” kata dia, yang juga pemilik Toko Beras Sami Jaya Pasar Cibinong, Minggu (24/5/2015) kemarin.

Baca Juga :  Kerap Disakiti Wanita, Pria Ini Nekat Berpacaran Dengan Boneka Seks

Menurutnya, media massa salah mengartikan ketika Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Koperasi UKM berkunjung ke Pasar Cibinong, termasuk berkunjung tokonya. Pada saat itu Menteri Pertanian bertanya tentang harga beras termurah. Menjawab pertanyaan tersebut, Suherman langsung menunjuk beras premium yang memang tertulis “Rp6.500”. “Namun ada yang salah mengartikan. Disangka itu harga per kilogram. Padahal, itu harga per liter, karena kami tidak menjual eceran dengan satuan kilogram. Selain itu, jika kami jual per karung, harganya Rp380.000 per karung,” kata dia.
Suherman menambahkan, beras tersebut langsung dibeli dari Karawang. Jika dihitung modal per kilogram, sebesar Rp7.200. Itu pun, belum termasuk ongkos panggul yang besarnya Rp12.000 per karung dan ongkos kirim sebesar Rp1 juta per truk untuk kapasitas 10 ton. “Jadi, secara hitung-hitungan saja, kami tidak mungkin menjual dengan harga Rp6.500 per kilogram,” katanya.

Beberapa waktu lalu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, serta Menteri Koperasi dan UKM AA Ngurah Puspayoga berkunjung ke Pasar Cibinong. Dalam kunjungan tersebut Amran mengatakan bahwa harga beras di tingkat pedagang adalah Rp7.200 per kilogram. Yang berarti bahwa di tingkat petani harga tentu lebih rendah dari itu.
Padahal, lanjut Amran, HPP beras adalah Rp7.300 per kilogram. Ketika itu Amran sama sekali tidak menyinggung bahwa harga beras Rp7.200 tersebut memiliki kadar air yang tinggi, yakni mencapai 25%, yang tentu saja dihargai di bawah HPP. Padahal, salah satu syarat pembelian sesuai harga HPP adalah kadar air yang tidak melebihi 14 persen.