Untitled-5JAKARTA TODAY – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menegaskan tidak akan melarang to­tal produksi dan konsumsi minuman keras (miras). Ada pengecualian di sektor produk­si, distribusi, hingga konsumsi minuman beralkohol.

Anggota Badan Legislatif dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Mu­hammad Arwanoi mengatakan, rancangan undang-undang (RUU) mengenai pelar­angan minuman beralkohol yang tengah dibahas di badan legislatif ini sudah pernah diusulkan dan dibahas sebelumnya di peri­ode lalu.

“Ini berdasarkan usulan masyarakat yang khawatir akan minuman beralkohol,” katanya ditemui dalam sebuah diskusi di Gandaria City, Jakarta, Rabu (10/6/2015).

Dia meluruskan, Fraksi PPP dan PKS yang menginisiasi usulan ini bakal menyer­takan pengecualian yang sifatnya terbatas. Dia menuturkan, saat ini poin-poin pengec­ualian tersebut masih dibahas di badan leg­islatif.

Baca Juga :  Tragis, Ibu dan Anak Ditemukan Tewas Bersimbah Darah

“Mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi memang ada bedanya. Tapi usu­lan yang kita berikan ada pengecualian. Kita tidak lakukan pelarangan total. Nggak mungkin di dunia ini melarang total,” je­lasnya.

Dia menambahkan, sebuah aturan yang diusulkannya ini bukan untuk mendiskredit­kan industri manapun. Sehingga, hal ini masih dibahas. “PPP bukan dalam rangka ingin membuat satu tata aturan yang mer­ugikan, industri pariwisata, industri, kita justru ingin agar bagaimana industri yang berkembang di bidang apapun itu tidak menganggu program yang lain, pendidikan, kecerdasan, dan tingkat kesuksesan anak didik kita. RUU itu bisa dikatakan melarang, tapi ada pengecualian yang sifatnya ter­batas,” paparnya.

Baca Juga :  Warga Pasaman Barat Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Gempa Magnitudo 4,5

Sementara itu, Executive Commitee Member Gabungan Industri Minuman Malt Indonesia Bambang Britono mengatakan, minuman beralkohol tidak membuat ting­kat kecerdasan menurun. Di Jepang, lan­jutnya, Sake adalah minuman beralkohol tradisional yang mendunia. “Sake ada di Jepang mendunia. Apa buat produktivitas mereka jadi menurun? Lalu Soju di Jepang, dan Jerman punya bir-nya. Lagipula kon­sumsi per kapita kita rendah, masih 1 liter per tahun. Malaysia sudah 15-8 liter per tahun,” tutur Bambang.

(Yuska Apitya/net)