JAKARTA TODAY – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menggelar festival film antikorupsi tahun ini. Anti Corruption Film Festival (ACFFest) 2015 membuat kompetisi dalam beberapa kategori, yakni film fiksi, film dokumenter, video jurnalisme warga, iklan layanan masyarakat, dan film animasi. Festival ini bisa diikuti film karya pelajar dan umum. Syaratnya, produksi film itu antara 1 Januari 2014 dan 5 Oktober 2015.

“Program ACFFest ini merupakan salah satu program pencegahan korupsi yang mengajak kaum muda di seluruh Indonesia untuk menolak korupsi,” ujar Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Adnan Pandu Praja dalam road show ACFFest 2015 di Purbalingga, Jawa Tengah, akhir pekan kemarin.

Dia melanjutkan, KPK juga menjalankan program pencegahan korupsi bersama stasiun radio dan televisi serta radio dan televisi streaming yang berisi talk show dan dialog interaktif. KPK juga mengajak 2.000 dosen untuk menggelar kuliah antikorupsi di perguruan tinggi.

Baca Juga :  Gunung Semeru Terus Menunjukkan Peningkatan Aktivitas Vulkanik

Adnan menjelaskan, dari berbagai program KPK, festival film antikorupsi menjadi yang paling diminati masyarakat Indonesia, terutama anak muda. «Program ini memang banyak diminati karena masyarakat Indonesia lebih suka menonton,» ucapnya.

Penggagas ACFFest, Ary Nugroho, mengungkapkan animo kaum muda untuk berpartisipasi memang tinggi. “Pada tahun ini kami menargetkan 350-an karya film bisa berpartisipasi dalam ACFFest,» katanya.

Ary menjelaskan, karya pemenang akan dikompilasi dan diedarkan ke berbagai komunitas masyarakat untuk diputar di lingkungan masing-masing. Selama ini, kata dia, banyak pembuat film pendek yang mengirimkan karya dengan berbagai tema antikorupsi. «Dalam hal tema, kami melihat ada berbagai karya yang mengangkat kelokalannya dengan persoalan ragam korupsi yang terjadi di lingkungannya,» tuturnya.

Baca Juga :  Simpan 43 Kg Sabu, Kakek Sofyan di Medan Dituntut Hukuman Mati

Tahun ini ada 15 kota yang disinggahi rombongan road show ACFFest 2015. Pemilihan kota yang dikunjungi rombongan road show dilakukan berdasarkan beberapa parameter. «Kami tak melakukannya di kota besar. Kami pilih kota kedua yang memiliki potensi, misalnya banyak pembuat film, semangat anti-korupsinya besar. Purbalingga ini salah satu pilihannya,» ucap Ary.

Sementara itu, pembuat film Kita Versus Korupsi, Chairun Nissa, menilai selama ini memang jarang pembuat film mengangkat tema antikorupsi. «Padahal fenomena korupsi kerap ditemui di sekitar kehidupan masyarakat sehari-hari,” katanya. Film pemenang festival ini tahun lalu, Langka Receh, yang berasal dari Purbalingga, mengangkat fenomena antikorupsi di lingkungan daerah tersebut.

(Yuska Apitya/net)