Tirta-SegaraJAKARTA, TODAY — Bank Indonesia (BI) mempre­diksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal II-2015 masih terbatas dan baru membaik di kuar­tal berikutnya. Ekspor dan investasi juga diperki­rakan masih lesu.

“Dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan ma­sih tertekan sejalan dengan perekonomian global dan harga komoditas yang masih rendah,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara di Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2015).

Ia mengatakan, investasi juga diperkirakan ma­sih tumbuh terbatas, seiring dengan masih lemahn­ya impor barang modal dan perkembangan realisa­si infrastruktur yang belum secepat perkiraan.

“Sementara itu, konsumsi diperkirakan membaik, terindikasi dari indeks keyaki­nan konsumen yang meningkat pada Mei 2015,” katanya.

Baca Juga :  Resep Masakan Pisang Epe Khas Makassar

Dengan demikian, kata Tirta, BI mem­perkirakan pertumbuhan ekonomi Indo­nesia di semester II-2015 akan membaik. Faktor pendukungnya adalah meningkat­nya konsumsi dan investasi pemerintah sejalan dengan meningkatnya implemen­tasi proyek-proyek infrastruktur, dan juga meningkatnya penyaluran kredit perbank­an. “Secara keseluruhan tahun, pertum­buhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,0-5,4% pada 2015,” jelasnya.

Menurut Tirta, konsistensi untuk mendorong percepatan realisasi belanja Pemerintah, termasuk untuk implementasi proyek-proyek infrastruktur, serta perbai­kan iklim investasi akan memiliki peranan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di 2015.

Bungan Acuan

Di bagian lain, Bank Indonesia masih menahan posisi suku bunga acuan alias BI Rate di 7,5%. Suku bunga masih tak ada pe­rubahan sejak Februari 2015.

Baca Juga :  Kasus Penemuan Bayi Perempuan di Jembatan sedang Diselidiki Polisi

“Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada tanggal 18 Juni memutuskan untuk mem­pertahankan BI Rate 7,5%, deposit 5,5%, dan lending 8%,” kata Tirta Segara.

Keputusan tersebut, kata Tirta, seja­lan dengan kebijakan moneter agar inflasi berjalan empat plus minus satu persen dan mengarahkan defisit neraca berjalan alias current account deficit (CAD) ke tingkat yang lebih sehat yaitu 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dengan ditahannya BI Rate di 7,5% ini maka tingkat suku bunga acuan ini tidak berubah dalam lima bulan terakhir. Posisi bunga acuan Indonesia masih termasuk yang tertinggi di Asia.

(Alfian M)