ismet-ali-1Mengapa ada menteri , kepala dinas ataupun manajer di berbagai peru­sahaan harus dico­pot sebelum masa jabatan mereka be­rakhir ?

Masyarakat sering bertanya namun nyaris jarang menemukan jawaban yang pasti. Apalagi kalau sudah dikaitkan dengan politik. Maka jawabanya semakin absurd. Dari segi manajemen strategi mereka dinilai tidak bisa berkontribusi nyata.

Kita ketahui bahwa yang per­manen didunia ini adalah pe­rubahan. Oleh karena itu, tugas utama menteri, kepala dinas atau manajer dalam konteks ini adalah membuat strategi yang sesuai untuk mensiasati setiap perubahan yang mempengaruhi kinerja lembaga yang dip­impinnya.

Tugas kedua mereka adalah melakukan eksekusi sesuai strategi terse­but. Ketika mer­eka tidak berani mengeksekusi strategi dengan se­gala konsekwensinya, maka berbagai strategi itu akan menjadi dokumen mati. Bila jarak (gap) antara strategi dan eksekusi semakin jauh, maka eksistensi para pemimpin tersebut patut dipertanyakan.

Baca Juga :  Pilot Project PT Believer, Lapas Paledang Kini Punya Instalasi Air Minum Layak Konsumsi Untuk Ruang Tahanan

Dari pengalaman kami melakukan Organisasional De­velopment di beberapa lemba­ga, diketahui ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya gap tersebut.

Pertama, Kurangnya dukun­gan dari eksekutif atas berb­agai strategi yang ada. Budaya perusahaan tidak menghargai strategi dan pemimpin kurang melakukan monitoring dan eval­uasi mengenai proses eksekusi.

Kedua, strategi tidak diko­munikasikan secara asertif. Se­hingga mereka tidak mengetahui pengaruh (feed back) strategi dari orang-orang yang dipim­pinnya.

Ketiga, Tidak jelas siapa yang harus bertanggung jawab dalam inisiatif mengeksekusi strategi tersebut. Akibatnya tidak ada pe­mimpin yang merasa perlu mem­buat eksekusi yang ujungnya bisa beresiko bagi jabatan mereka.

Baca Juga :  Pentingnya Miliki Asuransi Properti, Ini 3 Cara Tepat Memilihnya

Keempat, Tidak adanya sistem insentif yang berhubun­gan dengan strategi dan ekseku­si. Sehingga berbagai sasaran kerja pemimpin sering tidak se­jalan dengan sasaran lembaga atau perusahaan.

Agar keberadaan menteri, kepala dinas atau manager ber­manfaat bagi yang dipimpinnya, mereka perlu menjalankan best practices dimana strategi harus selaras dengan berbagai inisiatif, dapat diukur dan sesuai kon­teknya. Komunikasi dan sistem insenstif perlu dijalankan agar pemimpin dan karyawan dapat berkolaborasi dalam eksekusi setiap strategi. Sehingga kinerja mereka menjadi nyata.

Ismet Ali
Master Coach Soft Skills (*)