JAKARTA, Today – Sudah tiga bulan kompetisi domestik vakum, para pelaku sepak bola di Indonesia pun ikut terkena imbas.

Karena itu, Persib Bandung pun sempat membubarkan skuatnya pada 15 Mei 2015 lalu. Lalu, bagaimana na­sib wasit setelah pentas sepak bola Ta­nah Air berhenti?

“Penghasilan kan kalau wasit beda sama pemain dan pelatih. Kalau pela­tih dan pemain dikontak, kalau kita kan dibayar per pertandingan. Jadi kalau ada job dikontrak, tapi kalau ti­dak ada job ya tidak dibayar. Dengan berhenti seperti ini, kita juga jadi tidak dapat apa-apa,” tutur Fiator.

Soal finansial, jika disanding den­gan pemain dan pelatih, menjadi wa­sit bisa dibilang cenderung jauh di bawah.

Apalagi per musim, para pengadil hanya top mendapat kesempatan me­mimpin tak lebih dari 20 laga. Namun Fiator punya alasan lain hingga memat­apkan kariernya menjadi seorang wasit.

“Memang kalau penghasilan lebih banyak pelatih, tapi kalau karier lebih cepat wasit jalurnya. Kalau wasit, bisa dilihat lewat dua kali 45 menit, kalau memimpinnya bagus, bisa direkomen­dasikan naik levelnya,” papar dia.

Memang Fiator pun pernah mengi­kuti kursus kepelatihan, yang lingk­upnya baru sebatas menangani tim pelajar.

Pada kompetisi vakum dewasa ini pun, dia memilih berkutat mengoman­doi tim sepak bola untuk POPNAS dan tim lokal Ambarita FC.

(Imam/net)