20150731-honda-mobilio-blue-bird_20150731_122830Mobilio menurut Purnomo akan disediakan di Jakarta dan akan disebar ke seluruh kota tempat Blue Bird beroperasi jika respons masyarakat ba­gus,” terang Purnomo.

Blue Bird optimistis pemili­han Honda Mobilio sebagai ar­mada baru taksi perseroan akan memperoleh respons positif dari para pelanggan setianya. Pasalnya dengan membayar tarif yang sama, para pengguna jasa taksi Blue Bird bisa menga­jak lebih banyak penumpang dalam sekali angkut.

Head of Public Relation Blue Bird Group, Teguh Wijayanto, mengatakan perusahaan taksi burung biru mengutip tarif Rp 7.500 per buka pintu dan Rp 4 ribu per kilometer sejak Januari 2015. Tarif yang berlaku untuk taksi jenis sedan itu akan diber­lakukan juga untuk taksi Mobil­io baru yang akan dioperasikan mulai tengah bulan ini. “Saat ini kami masih dalam proses pengecatan armada Mobilio dan penyeragaman interior, jadi memang dilakukan berta­hap penggunaannya mulai ten­gah bulan ini,” kata Teguh.

Teguh masih enggan menye­butkan angka pasti berapa ban­yak kendaraan multi purpose vehicle (MPV) Mobilio yang akan disulap menjadi taksi. Na­mun ia menyatakan untuk ta­hap awal yang pasti jumlahnya tidak akan sebanyak taksi se­dan yang selama ini digunakan perseroan.

Selain memberikan keun­tungan dari sisi daya angkut bagi penumpang, Teguh men­jelaskan dipilihnya Mobilio sebagai armada taksi baru ada­lah untuk menjaring segmen pelanggan yang lebih luas dengan menyediakan diversifi­kasi armada taksi. “Sementara dari sisi operasional, pabrikan Honda relatif mudah dirawat dan memiliki dukungan suku cadang yang terjangkau,” kata Teguh.

Kinerja Perseroan

Dari sisi kinerja, sepanjang paruh pertama tahun ini Blue Bird mencatatkan pendapatan senilai Rp 2,66 triliun, naik dari Rp 2,29 triliun pada periode yang sama 2014. Namun, se­lain terimbas beban yang naik, perseroan juga terkena efek pelemahan rupiah.

Tercatat, Blue Bird men­galami rugi selisih kurs senilai Rp 23,03 miliar, padahal pada semester I 2014 perseroan mencetak laba kurs Rp 6,36 miliar. Setelah dikurangi be­ban dan biaya, perseroan pada akhirnya mencetak laba Rp 444 miliar, naik 10,91 persen dari Rp 402,87 miliar.

“Kondisi ekonomi memang sedang tidak bagus karena daya beli menurun dan nilai tukar rupiah melemah. Untungnya harga BBM masih terkendali,” kata Purnomo.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected] (CNN)