Onedolar2009seriesJAKARTA, TODAY — Seperti diperkirakan para analis pasar uang, dolar Amerika Serikat (USD) akan terus menguat. Kamis (6/8/2015) kema­rin, USD sudah berada di kisaran Rp 13.530.

Kondisi tersebut diperburuk dengan kondisi perekonomian Indonesia yang melam­bat. Di kuartal II-2015, pertumbuhan ekonomi hanya 4,67% atau lebih rendah dari kuartal I-2015 sebesar 4,71%.

“Kita sudah turun ke pasar,” kata Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Yati Kurniati dalam Infobank Out­look Midyear 2015, Gairah Baru Bis­nis Otomotif dan Properti Nasional, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (6/8/2015). Namun intervensi BI ini tak berpengaruh.

Yati menjelaskan, BI selaku otoritas moneter sudah melakukan berbagai langkah dan kebijakan dengan meng­gelontorkan cadangan devisa untuk bisa menekan volatilitas rupiah.

“BI sudah melakukan intervensi dan kebijakan intervensi untuk men­jaga volatilitasnya. Kita tidak mau menggarami air laut jadi kita melihat apa yang menjadi penyebab nilai tukar, kapan kita masuk, kapan kita melepas cadangan devisa kita,” jelas dia.

Yati menyebutkan, perlambatan perekonomian saat ini terjadi tidak hanya di dalam negeri namun juga secara global. Untuk itu, pihaknya melakukan kebijakan-kebijakan untuk tetap memberikan optimisme di pasar keuangan.

Baca Juga :  CCTV Rekam Perampok Bersenjata di Medan, Sabetkan Sajam Tarik Motor Korban yang Baru Parkir

“Kebijakan kami untuk menum­buhkan optimisme. Tugas kami men­jaga supaya perlambatan tidak ber­langsung terus dan berupaya optimis. Kalau semua pesimis, jadi makin ter­perosok,” katanya.

Tantangan perekonomian global, kata dia, tentu menekan perekono­mian Indonesia. Negara-negara tujuan ekspor Indonesia seperti China juga tengah melambat. Nilai ekspor Indo­nesia anjlok. “Yang melambat negara-negara partner dagang utama yang menyebabkan perlambatan pertum­buhan ekspor, harga komoditas turun, di mana ekspor kita tergantung ko­moditas, permasalahan semakin kom­pleks,” katanya.

Meski begitu, Yati meyakini, per­ekonomian Indonesia ke depan akan bisa pulih dengan dorongan pemerin­tah melalui percepatan proyek-proyek infrastruktur. “Ekonomi Indonesia dalam jangka pendek akan membaik, jangka menengah akan meningkat dengan didukung oleh reformasi struk­tural,” imbuhnya.

Tak Terbendung

Keperkasaan nilai tukar USD seo­lah tak terbendung. Ada banyak faktor yang menyebabkan penguatan mata uang Paman Sam.

Menurut Sub Manager Group of Economy Risk and Financial System Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Dienda Siti Rufaedah, mata uang di negara maju masih bisa bertahan ter­hadap penguatan USD.

Berbeda dengan kinerja mata uang negara maju, mayoritas mata uang negara berkembang masih menunjuk­kan pelemahan terhadap USD, terma­suk juga rupiah.

Baca Juga :  Gempa Bumi Magnitudo 4,5 Guncang Pasaman Barat, BMKG Sebut Segmen Talamau

“Rubel menjadi mata uang yang menunjukkan performa terburuk di bulan Juni 2015 dengan melemah sebe­sar 5,59% dan ditutup pada level 55,27 per dolar AS,” katanya dalam Laporan Perekonomian dan Perbankan LPS bu­lan Juli, Kamis (6/8/2015).

Tekanan terhadap mata uang rubel didorong oleh anjloknya pasar saham di China menyusul jatuhnya harga min­yak. China adalah salah satu konsumen komoditas terbesar dunia sehingga memicu kecemasan melemahnya per­mintaan global.

Namun bank sentral Rusia me­nyatakan akan secara aktif melakukan intervensi di pasar, untuk menyokong rubel dari penurunan harga minyak serta guncangan eksternal lainnya.

Di akhir 2015, mata uang rubel di­proyeksikan mampu menguat sebesar 6,55% ke level 56,76 per USD.

Sementara meningkatnya permin­taan valas untuk pembayaran utang dan dividen di triwulan II-2015 mem­berikan tekanan terhadap mata uang rupiah. “Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI rate di level 7,5% dinilai mampu men­jadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah,” ujarnya.

(Alfian M)