Cristián-ZapataPEKAN pembuka Serie A 2015/2016 langsung meng­hadirkan sejumlah kejutan. Salah satunya adalah kekala­han juara bertahan Juventus dan keberhasilan Sampdoria bertengger di puncak klase­men berkat kemampuan mencetak lima gol ke gawang lawannya. Sementara itu dua tim top dari kota Milan, AC Milan dan Inter Milan, mengalami per­bedaan nasib di pekan pertama

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Rangkaian pertandingan di giornata pertama Serie A sudah tuntas. Sem­bilan tim meraih kemenangan atas sembilan tim lainnya dan dua tim lainnya berbagi hasil imbang.

Di antara tim-tim yang kalah ada Juve, peraih Scudetto empat musim terakhir yang musim ini akan berusaha meraih yang kelima secara berturut-turut. Tetapi betapa langkah pertama Bianconeri sangat tidak ideal.

Bermain di kandang sendiri, Juventus Stadium dengan menjamu Udinese yang musim lalu harus berjuang menjauhkan diri dari zona maut, Juve malah kalah lewat gol tunggal Cyril Thereau.

Dalam 23 tahun, catat Infostrada Live, baru kali ini lagi ada tim juara bertahan yang langsung kalah di giornata pertama Serie A. Sebelum Juve musim ini, ada Sampdoria pada musim 1991-92.

Masih dalam catatan situs statistik terse­but, Udinese merupakan tim ketiga yang bisa mengalahkan Juve dalam partai Serie A di Juventus Stadium setelah Inter (November 2012) dan Sampdoria (Januari 2013).

Bicara mengenai Sampdoria, pekan pembuka Serie A musim ini berjalan amat memuaskan berkat kemenangan telak 5-2 atas tim promosi Carpi. Hasil dengan skor tersebut membuat Sampdoria berhak bertengger di puncak klasemen di atas dela­pan tim lain yang juga menang. Sebelum laga itu, sebut Opta, Il Samp belum pernah mencetak lebih dari dua gol di laga pembuka Serie A sejak 1994 (5-0 atas Padova).

Di partai lain, AS Roma yang merupakan tim runner up musim lalu menuai hasil im­bang 1-1 ketika melawat ke markas Verona. Roma tertinggal lebih dulu lewat gol Bosko Jankovic sebelum Alessandro Florenzi me­nyamakan beberapa menit kemudian.

Hasil ini setidaknya cukup membuat puas Rudi Garcia selaku allenatore Roma. Apalagi timnya saat itu sebenarnya unggul penguasaan bola hingga 67:33, juga lebih banyak membuat peluang; Roma membuat 21 tembakan dengan delapan di antaranya mengarah ke gawang, Verona mencatat 12 tembakan dengan tujuh di antaranya tepat sasaran.

Sementara itu dua tim top dari kota Mi­lan, AC Milan dan Inter Milan, mengalami perbedaan nasib di pekan pertama. Milan, yang musim lalu finis di posisi 10, kalah 0-2 di markas Fiorentina setelah bermain den­gan 10 orang sejak akhir babak pertama se­dangkan Inter, yang musim lalu berpering­kat delapan, menang tipis 1-0 dari Atalanta.

Kemenangan Inter dipetik berkat gol tunggal Stevan Jovetic, yang memainkan debutnya untuk Nerazzurri di Serie A usai dipinjam dari Manchester City, di menit-menit akhir pertandingan. Ini merupakan awal menjanjikan buat Jovetic yang sedang berusaha menghidupkan lagi kariernya dan juga untuk La Beneamata dalam mengawali musim baru.

Sedangkan AC Milan mengawali Serie A Italia 2015/16 dengan kekalahan setelah tak mampu berbuat banyak di Stadio Ar­temio Franchi, markas Fiorentina, Senin (24/8/2015) WIB. Pasukan Sinisa Mihajlovic menyerah 2-0 dari skuat Paulo Sousa, di mana Marcos Alonso dan Josep Ilicic men­jadi bintang kemenangan tuan rumah. Den­gan demikian, tiga poin perdana membuat Fiorentina berada di posisi ketiga klase­men sementara. Ada pun Milan berada di wilayah degradasi dengan nilai nol.

Fiorentina langsung memberikan anca­mannya di menit-menit awal pertandingan. Ilicic dari luar kotak penalti melepaskan tembakan ambisius. Namun, Diego Lopez masih cekatan membaca arah usahanya itu. Lagi, Ilicic membuat gebrakan di menit ke-17. Tapi sekali lagi, Diego Lopez masih mampu meredam aksinya itu setelah laju bola diji­nakkannya dengan dekapan.

Sejurus kemudian, giliran Klanic men­gancam gawang Rossoneri. Tendangannya menjurus tepat ke gawang, tapi sang kiper tim tamu menghentikan bola dengan kakin­ya. Sepuluh menit sebelum laga rampung, Gilberto melakukan tembakan spekulasi. Diego Lopez hanya melongo melihat bola yang melintas karena tidak mengarah ke gawang.

Menginjak menit ke-38, publik tuan rumah larut dalam kegembiraan seiring den­gan pecahnya kebuntuan. Marcos Alonso mengambil eksekusi tendangan bebas dan sempurna. Bola mengarah ke pojok kiri gawang Milan.Ilicic tak berhenti menebar ancaman. Di menit ke-54 liuk-liukannya diakhiri dengan sepakan dari ruang yang kosong. Namun belum mampu merobohkan Diego Lopez. Petaka datang dua menit beri­kutnya bagi Milan setelah Alessio Romagnoli melakukan pelanggaran di kotak terlarang kepada Ilicic.

Kartu kuning bagi sang bek, penalti bagi La Viola. Ilicic yang menjadi algojo penalti, berhasil menjalankan tugasnya. 2-0 Fiorenti­na memimpin. Milan setidaknya baru keluar dari tekanan ketika laga beranjak ke menit 62, meski sepakan dari Adriano masih seba­tas dalam jangkauan kiper Astori.

Pun di menit ke-75 saat Bacca menerima umpan diagonal dari Bonaventura. Tendan­gan setengah voli nama pertama arahnya masih melebar dari sasaran. Tiga menit se­belum laga bubar giliran Bonaventura men­jajal namanya masuk papan skor. Sayang, us­ahanya dari dalam kotak penalti melambung tinggi di atas mistar.