774767_4544885133412_1932250952_oPEMBAWAANNYA yang humoris, jahil dan gaul, membuat orang ke­liru mengira jika Stephen Ferdinand adalah seorang dokter, tak sedikit pasien yang menyukai cara pelayanannya. Pria peranakan Tionghoa ini seorang Dokter Gigi di Eka Hospital, Bumi Serpong Damai, Tanggerang.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Stephen sendiri memposisikan dirinya bu­kanlah hanya seorang dokter, baginya, pasien adalah seorang teman yang butuh pertolongan. Ia sendiri lebih suka bekerja dengan situasi yang ceria.

Dibalik seragam putihnya, pria jebolan Univer­sitas Trisakti ini mampu membius pasien-pasiennya agar nyaman berada didekatnya. Dengan begitu ia merasa mempermudah pekerjaanya selama praktik.

“Saya me­mang begini, suka bercanda dan lebih suka kalau orang yang saya temui itu nyaman menganggapsaya se­bagai temannya. Dengan begitu juga, pasien saya jadi tidak tegang, keban­yakan pasien yang datang tegang karena takut sakit, tahu sendiripengo­batan dentis itu lumayan menya­kitkan,” papar pria kelahiran Bogor, 13 De­sember 1983.

Baca Juga :  Hampir 2 Pekan Afan Tak Kunjung Ditemukan, Keluarga Lapor Polisi

Suasana ceria yang ia cip­takan denganp a s i e n n y a , membuat hubungan Stephen dengan pasien ti­dak hanya sebatas dokter dengan pasiennya. Alhasil, setelah pengobatan masih banyak pasien yang memperpanjang tali silatur­ahmi dengannya.

“Banyak pasien yang berhubungan baik setelah beres pengobatan, jadi tak habis setelah beres pengobatan saja, banyak pasien yang ngajak saya nongkrong atau main ke rumah saya, be­berapa diantaranya jadi teman dekat saya sekarang,” ungkap pria ramah ini.

Baca Juga :  Hantam Pohon di Depan Pabrik Air Mancur Karanganyar, Pria Asal Solo Meninggal Dunia

Menurutnya, 60 persen kesembu­han pasien itu datang dari jiwa yang ceria, sisanya barulah dari bantuan medis. Kebanggaan dirinya saat me­lihat pasiennya sembuh dan puas dengan pengobatan yang ia laku­kan, dengan begitu ia tidak merasa terpaksa walaupun pekerjaanya menuntut ia bekerja dengan jam terbang yang lumayan panjang setiap harinya.

“Kalaupun saya harus standby seharian di dirumah sakit, buat saya bukan ma­salah. Sebab memang saya menyukai pekerjaan ini dan pasien saya me­nyenangkan semua,” pungkasnya.