Bogor Kota, Sudahkah Tertata?

Bogor Kota
Agus Jatmika (Ketua MGMP Sosiologi Kota Bogor)

Oleh: Agus Jatmika (Ketua MGMP Sosiologi Kota Bogor)

USIA 544 tahun adalah usia yang matang bagi sebuah kota. Dalam perjalanan sejarah yang panjang, Kota Bogor telah tumbuh dari kota warisan Kerajaan Pajajaran menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, jasa, dan pemerintahan di Jawa Barat. Berbagai pembangunan terus dilakukan, wajah kota terus berubah, dan jumlah penduduk terus bertambah. Sementara itu di tengah perayaan Hari Jadi Kota Bogor ke-544, muncul sebuah pertanyaan reflektif sudahkah Kota Bogor benar-benar tertata?

Saat ini Bogor tidak lagi hanya berfungsi sebagai kota lokal. Secara sosiologis maupun ekonomis, Bogor telah menjadi bagian dari kawasan metropolitan Jabodetabek yang sangat dinamis. Meski terdapat perencanaan Ibu Kota Negara berpindah ke IKN, dalam praktik kehidupan sehari-hari Jakarta masih menjadi pusat aktivitas ekonomi, bisnis, dan pemerintahan nasional. Akibatnya, Bogor hingga hari ini tetap memikul peran sebagai kota penyangga Jakarta.

Setiap pagi, ribuan warga Bogor bergerak menuju Jakarta untuk bekerja, kuliah, dan menjalankan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, setiap akhir pekan dan musim liburan, ribuan warga Jakarta datang ke Bogor untuk berwisata maupun beristirahat. Hubungan timbal balik ini menjadikan Bogor menghadapi tekanan urbanisasi, mobilitas penduduk, dan kebutuhan infrastruktur yang jauh lebih kompleks dibandingkan kota-kota lain dengan ukuran yang relatif sama.

BACA JUGA :  Kabar Gembira, Perumda Tirta Pakuan Gelar Promo Pasang Baru Murah Meriah di Momentum HJB

Dalam perspektif sosiologi perkotaan, posisi sebagai kota penyangga membawa konsekuensi besar. Bogor tidak hanya harus memenuhi kebutuhan warganya sendiri, tetapi juga harus menanggung dampak dari perkembangan kawasan metropolitan yang terus meluas. Pertumbuhan permukiman, meningkatnya volume kendaraan, tekanan terhadap ruang terbuka hijau, hingga melonjaknya kebutuhan layanan publik menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi setiap hari.

Oleh sebab itu, penataan Kota Bogor tidak dapat lagi dipandang hanya dalam skala kota administratif, tetapi harus dipersiapkan sebagai kota metropolitan yang mampu mengelola arus manusia, barang, dan aktivitas ekonomi yang datang dari luar wilayahnya.

Persoalan yang paling nyata terlihat adalah kemacetan lalu lintas. Hampir setiap hari sejumlah ruas jalan utama mengalami kepadatan kendaraan yang tinggi. Pada jam-jam tertentu, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam hitungan menit berubah menjadi berjam-jam. Situasi ini semakin terasa ketika akhir pekan tiba dan arus wisatawan dari Jakarta memasuki Kota Bogor.

BACA JUGA :  Tragedi Camping di Temanggung Jadi Pengingat Pentingnya Keselamatan Penggunaan Kompor Portabel

Pada dasarnya kemacetan bukan sekedar masalah transportasi. Dari sudut pandang sosiologi, kemacetan mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan aktivitas sosial-ekonomi dengan kapasitas ruang kota yang tersedia. Waktu produktif warga terbuang, biaya hidup meningkat, tingkat stres bertambah, dan kualitas hidup masyarakat perlahan menurun.

Masalah transportasi di Bogor juga belum dapat dipisahkan dari persoalan angkutan kota atau angkot yang hingga hari ini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas. Selama puluhan tahun, angkot menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat Bogor. Di sisi lain pada saat yang sama, sistem operasional yang belum tertata secara optimal sering kali menjadi bagian dari persoalan lalu lintas perkotaan.

Praktik menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat, menunggu penumpang terlalu lama, hingga tumpang tindih trayek masih menjadi keluhan masyarakat. Berbagai upaya penataan telah dilakukan, tetapi hasilnya belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan transportasi kota modern.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================