alfian mujani 240KETIKA kita melihat seorang pria setengah baya keluar dari diskotik pada tengah malam, menggandeng tangan seorang wanita muda, kemung­kinan besar kita menyangka bahwa lelaki itu tidak be­nar. Lelaki hidung belang. Padahal, faktanya lelaki itu adalah seorang ayah yang peduli sekali pada puterinya. Ia mencarinya sepanjang hari karena puterinya diajak paksa teman-temannya. Dan, putri itu ditemukan berada di diskotik. Kita salah paham.

Ketika kita melihat seorang lelaki berdiri tegak di atas menara masjid, berucap dengan tegas: “Ana rabbukum al-a’laa” (Aku adalah tuhanmu yang maha tinggi).’’ Kemungkinan kita menyangka orang itu sedang mengaji, membaca Alqur’an. Padahal lelaki itu bermak­sud mengikuti jejak Fir’aun yang menganggap dirinya sebagai tuhan. Kita salah paham.

Sejatinya kita tak memiliki kemampuan untuk membaca niat seseorang. Sebab, urusan hati seseorang hanya dia dengan Tu­hannya yang tahu. Karena itu, agama men­gajarkan agar kita selalu berbaik sangka ke­pada setiap orang. Ini jauh lebih mulia dan menenteramkan ketimbang menilai dan menghakimi sesuatu yang kita tak tahu per­sis. Ini namanya buruk sangka. Salah paham.