IMG_0985YANE Ardian, istri Walikota Bogor Bima Arya, ternyata memiliki gagasan besar yang patut segera diwujudkan. Gaga­sannya ialah membuat gerakan moral edukatif mengemba­likan anak-anak usia dini pada peradaban. Loh kok bisa?

(Alfian Mujani)

WANITA berparas cantik itu tampak bersemangat menceritakan idenya untuk melakukan gerakan moral ‘’Anti Gadget’’ bagi anak-anak usia dini. ‘’Saya benar-benar risau dengan perkembangan anak ter­dampak negatif,’’ kata Yane, ‘’Bukan berarti gadget tidak kita butuhkan, tetapi khusus bagi anak-anak perlu kita batasi dengan ketat,’’ tambahnya, Rabu (16/9/2015). Gagasan besar Yane terse­but disampaikan kepada pani­tia lomba mainan edukasi: Brick Competition Bogor Today Cup memperebutkan piala bergilir Ibu Walikota Bogor. Lomba akan dige­lar pada Minggu, 27 September 2015 di The Jungle, Bogor Nirwana Residen, Kota Bogor. ‘’Saya sudah melakukan pembatasan itu ter­hadap putra dan putri saya,’’ ujar mantan presenter itu.

Yane lantas menceritakan beberapa lagkah yang sudah di­lakukannya dalam rangka men­gendalikan anak usia dini dari kecenderungan kecanduan gad­get. Subyek didik pertama yang menjadi kelinci percobaan Yane adalah putra putrinya sendiri, Kin­aura Maisha dan Kenatra Mahe­sha. Kedua anak Walikota Bogor ini berhasil dijauhkan dari smart­phone dan gadget oleh Yane. ‘’Aw­al-awalnya sih mereka berontak. Seperti juga anak-anak sekarang pada umumya, anak saya juga ter­kena sihir gadget,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Bongkar Dugaan Kasus Penyalahgunaan Pupuk Bersubsidi, Polisi Sita 279,45 Ton Pupuk

Namun dengan ketelatenan, kesabaran, dan kecerdasan Yane dalam menjelaskan tentang ba­haya kecanduan gadget bagi naka-anak, akhirnya anak-anaknya itu bisa menerima. Bahkan, kedua anak Yane tidak merasa asing dan minder ketika berada di tengah-tengah anak lain yang masih sibuk dengan gadget. ‘’Anak-anak saya tidak merasa terasing dari per­gaulan, tetapi justru mereka mera­sa unik dan melakukan hal benar,’’ ujar Yane yang mengaku terke­jut juga mendengan pengakuan anaknya yang merasa unik itu.

Karena merasa berhasil men­gajari anak-anaknya untuk tidak bergantung pada gadget, Yane lantas menyebarkan gagasan anti gadget-nya kepada kawan-kawan dan ibu-ibu muda lainnya. Tak mu­dah, memang. Banyak yang pesi­mis. ‘’Mereka selalu bilang mana bisa menjauhkan anak-anak dari gadget. Saya bilang bisa, buktinya anak-anak saya,’’ ujar Yane yang selalu membawa kedua anaknya pada saat mensosialisasikan ga­gasannya itu, ‘’Saya selalu bawa anak-anak untuk memberikan testimoni di depan ibu-ibu,’’ tam­bahnya. Yane juga mengangkat kedua anaknya sebagai ‘’Ambas­sador Anak Anti Gadget.’’

Lantas Yane menjelaskan menjelaskan dampak negatif gad­get bagi anak-anak yang mebuat dia risau. Antara lain anak-anak menjadi tidak sensitif terhadap lingkungan. Mereka cuek terha­dap orang yang ada di sekitarnya karena asyik dengan game yang ada di aplikasi gadgetnya. ‘’Mer­eka asyik dengan dirinya sendiri,’’ katanya.

Baca Juga :  Terkendala Kekeruhan, Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor Akan Lakukan Pemeliharaan IPA dan SPAM Katulampa Senin Mendatang

Hal lain yang membuat Yane risau juga anak-anak yang ke­canduan gadget memiliki emosi yang agak meledak-ledak, kurang bertanggungjawab, dan cender­ung anti sosial. ‘’Saya tidak tahu, apakah sudah ada lembaga yang melakukan penelitian terhadap dampak negatif penggunaan gad­get pada anak-anak,’’ katanya.

Yang pasti, lanjut Yane, treat­ment menjauhkan gadget dari kedua anaknya berdampak sangat positif. ‘’Emosi mereka lebih stabil, lebih peduli, dan sangat bertang­gungjawab atas apa yang mereka lakukan,’’ ujarnya. Sebagai contoh Yane menyebutkan, jika ada tamu menginap di rumahnya, kedua anaknya itu sibuk menginapkan tempat tidur, memberi tahu kepa­da tamunya di mana kamar mandi yang bisa digunakan, dan sikap kepedulian lain terhadap tamu.

Berangkat dari pengalaman menjauhkan anak-anaknya dari gadget, perempuan kelahiran Bogor 1 Juli 1979 ini, ingin berbagi dengan ibu-ibu lain di Kota Bogor khususnya, di Indonesia pada umumnya. ‘’Saya ingin membuat gerakan mengem­balikan anak kepada peradaban me­lalui media mainan tradisional anak-anak dan mainan-mainan edukasi,’’ ujar Yane mengakhiri perbincangan.