11755647_10206459087910039_1344745407813138910_nMENJADI seorang ibu dan menjalankan bisnis tidak mudah, salah satu dari kedua tanggungjawab itu tentu harus ada yang diprioritaskan. Hal ini tentu dirasakan oleh Dina Gunawan, ibu dua anak (Carolinedan Alexandra) ini menjalani kesehariannya antara mengurus anak dan menjalankan bisnis keluarga. Namun, ia sadar betul jika keluarganyayang harus di prioritaskan lebih dulu kerimbang bisnis bengkel besar warisan ayahnya.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Pembawaanya yang luwes dan tidak menjadikan­nya sebuah bebas mem­buat kedua komponen itu terasa dinamis saat dijalani setiap hari. “Yang jelas saya pasti ngurusin keluarga dulu sebelum pergi kerja, biasalah ibu-ibu ngan­terin anak-anak sekolah dulu, lalu ke bengkel kemudian siang harinya saya jemput anak-anak, terus lanjut kerja lagi,” urai wani­ta kelahiran 7 Desember 1969 ini.

BACA JUGA :  Daftar Pemenang Kompetisi Skateboard U-Games Southern Promises 2024 di Unida Bogor

Kendati begitu, walau kedua buah hatinya adalah tanggung­jawabnya, ia juga tidak mau me­lalaikan amanat keluarga untuk mengurus bengkel Rama Motor Jaya Teknik (depan Seoklah Tu­nas Harapan). Sejak almarhum ayahnya (Singgih Gunawan) me­ninggal, wanita yang hobi poto­grafi ini diemban untuk menge­lola bengkel besar itu.

“Pas papa meninggal saya te­patnya tahun 1994 baru lulus ku­liah, kakak-kakak saya semua su­dah mandiri dan punya pekerjaan masing-masing, saya sendiri be­lum pernah bekerja dimanapun, jadi sayalah yang harus mengurus bengkel ini,” tutur wanita lulusan Amerika Serikat ini.

Dina sendiri bukanlah pribadi yang gemar otak atik otomotif, al­hasil pada saat terjun langsung ke bengkel ia tidak paham apapun. Namun karena keinginan dan niat belajarnya yang tinggi, kini istri Effendy Liebrataini sudah hatam dengan du­nia otomotif.

BACA JUGA :  Kecelakaan di Batur, Elf Wisatawan Jakarta Mau ke Dieng Terguling, 7 Orang Luka Berat

“Mu n g k i n sudah suratan takdir yah, dulu waktu kecil papa saya sering be­likan mainan mobil-mobilan, padahalkan saya anak perempuan, harusnya boneka, ternyata sekarang saya berkecim­pung disini,” kata dia.

Baginya, blusukan ke bengkel miliknya ini memiliki nilai lebih, karena ia dengan sendirinya me­mahami dunia otomotif, meski ia adalah sarjana didikan salahsatu universitas Amerika, Dina tidak gengsi untuk menyeburkan diri ke bisnis yang umumnya dilakoni oleh kaum Adam.

“Bagi saya, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai, jadi berbuatlah yang benar dan jangan setengah-setengah,” tu­tup Dina.

============================================================
============================================================
============================================================