Untitled-13Peluang bisnis waralaba makanan semakin be­ragam. Pencipta bisnis waralaba makanan harus berpikir ekstra memunculkan ide usaha baru dengan tampilan unik dan nama yang punya nilai jual.

Edi Hartono, bersama teman-temannya berhasil menciptakan peluang bisnis waralaba dengan menyulap jajanan tradisional ber­wujud kue mungil bertekstur em­puk menjadi camilan ala Eropa, yaitu kue cubit yang diberi embel-embel nama Eropa. Omzet yang di­tawarkan cukup menggiurkan yaitu mencapai Rp 10 juta per bulan.

“Kue cubit kita tahu kan makan­an kampung ya. Kita mau angkat kue cubit jadi camilan berkelas dengan sentuhan rasa-rasa Eropa seperti ini. Sisi Eropanya dari war­na, tekstur, rasa dan toping-nya,” jelas Edi Hartono, pemilik bisnis waralaba Kue Cubit Eropa di sela-sela pameran waralaba pekan lalu.

Ada 8 varian rasa yang ditawar­kan di antaranya royal cappucino, great taro, green tea crush, original, chocolate lover, red velvet, italian bubble gum dan black forest. Setiap tiga bulan Edi meluncurkan varian rasa baru untuk kue cubitnya.

Paket bisnis waralaba Kue Cubit Eropa ditawarkan tidak sampai Rp 10 juta dan tanpa biaya kemitraan. Paket franchise-nya mulai dari Rp 6 jutaan harga pameran untuk paket tanpa booth.

Selain itu, ada paket booth eko­nomis yang seharga Rp 9,9 juta harga pameran dari harga normal paket yaitu Rp 13 juta. Lalu paket exclusive dengan ukuran booth leb­ih besar seharga Rp 20 juta. Bisnis waralaba Kue Cubit Eropa ini sudah laris manis hingga menjaring pulu­han mitra. “Sudah ada mitra 53 orang. Dari pameran ini saja dapat 30 orang pembeli. Kebanyakan yang ekonomis,” tambahnya.

Baca Juga :  Sempat Diajak Jadi Pengemis, Umang Konsisten Buat Besek

Bisnis yang dijalankan kurang dari dua tahun ini sudah tersebar hingga di Jabodetabek, Lampung, Bengkulu, Jogja, Karawang, dan Purwakarta. Awal mulanya Edi han­ya berbisnis untuk dirinya sendiri, kemudian muncul peminat yang ingin menjalankan bisnis serupa dengan merek yang sama.

“Beberapa bulan kita buka se­cara mandiri, lalu ada permintaan franchise. Akhirnya kita buka fran­chise. Nggak sampai satu tahun bisa di-franchise-kan,” imbuhnya.

Ibu-ibu rumah tangga yang ber­minat mengisi waktu luang sekal­igus mendapat penghasilan men­jadi mayoritas pembeli franchise Kue Cubit Eropa.

“Ibu-ibu rumah tangga paling banyak. Lalu guru, sampai anak-anak muda termasuk juga banyak. Kalau mahasiswa yang usianya kurang dari 25 tahun kita kasih diskon Rp 1 juta,” ucap Edi.

Selain diskon, Edi menyediakan 3 booth gratis setiap tahunnya khusus bagi anak muda. “Khusus anak muda, kita sediakan free 3 unit paket ekonomis yang dibagikan setiap tahunnya. Tinggal kirim proposal saja,” imbuhnya.

Fasilitas yang didapat diantaranya 1 unit booth, kompor, loyang, standing banner, seragam, bahan baku perdana, packaging hingga SOP cara pembuatan. Setelah usaha berjalan, mitra hanya tinggal melanjutkan membeli bahan baku serta kemasan.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Sebagai gambaran, Edi menjelaskan, dengan modal Rp 9,9 juta untuk membeli franchise paket ekonomis, laba bersih yang diraup per bulan bisa mencapai Rp 3 juta.

“Asumsi terpenuhi target omzet penjualan Rp 350.000 per hari selama 30 hari. Harga per kotak kue cubit Rp 10 ribu isi 10 kue. Omzet per bulan bisa Rp 9-10 juta per bulan. Tanpa franchise fee dan royalty fee,” ujarnya.

Edi mengatakan salah satu mitranya bahkan bisa meraup omzet Rp 1 juta per hari hingga balik modal atau mencapai break even point (BEP) hanya dalam waktu satu bulan dari rata-rata umumnya BEP setelah 3 bulan.

Ia berbagi tips agar omzet yang diperoleh bisa maksimal. “Omzet sangat tergantung dari lokasi. Saran kami buka di perumahan, pertigaan, food court, dekat sekolah atau dekat kampus,” katanya.

Tips berikutnya, yaitu memastikan kualitas pelayanan karyawan. “Karyawan kan biasanya ada yang jutek. Nah kita biasa adakan mystery guest, ngecek karyawan. Kita ada tim dibagi per wilayah, salah satu tugasnya untuk cek kualitas pelayanan,” pungkasnya.

(detikfinance)