Fok310TBankMandiriAgusMartowardoyoDirutBankMandiri-21Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akhirnya menu­runkan tingkat suku bunga acuan atau BI rate sebe­sar 25 ba­sis poin (bps) menjadi 7,25%.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Sementara depocit facili­ties sebesar 5,25% dan lend­ing facilities 7,75%,’’ kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara, di Ge­dung BI Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016). Menurut dia, RDG tanggal 14 Januari 2016 memutuskan untuk menurunkan BI rate. RDG kali ini dilakukan selama 2 hari yaitu tang­gal 13 dan 14 Januari 2016.

Menurut Tirta Segara, keputu­san ini sejalan dengan pernyata­an BI sebelumnya bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjagan­ya stabilitas makroekonomi, serta mempertimbangkan pula dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global pasca kenaikan Fed-Fund Rate (FFR).

“Penurunan BI Rate secara teru­kur diharapkan dapat memperkuat pelonggaran kebijakan makro­prudensial dan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) yang telah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.

Tirta menjelaskan, pelonggaran lebih lanjut akan dilakukan setelah dilakukan asesmen menyeluruh terhadap perekonomian domes­tik dan global dengan tetap men­jaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Baca Juga :  Kreasi Ditengah Pandemi, Patriot Desa Latih Emak-emak Rengasjajar

BI juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi, pen­guatan stimulus pertumbuhan, dan reformasi struktural, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ketidakpastian di pasar keuan­gan global mereda setelah kenaikan Fed Fund Rate (FFR), sementara pemulihan ekonomi global diperki­rakan masih terbatas.

Kenaikan FFR pada 17 Desember 2015 yang telah diantisipasi pasar serta pernyataan the Fed bahwa normalisasi akan dilakukan secara gradual dan terbatas tidak menim­bulkan gejolak di pasar keuangan global.

Sementara itu, harga komodi­tas global masih terus menurun, termasuk harga minyak dunia. Perbaikan ekonomi AS masih tertahan, sejalan dengan masih lemahnya indikator penjualan eceran dan personal expenditure, serta masih terkontraksinya sek­tor manufaktur.

Pemulihan ekonomi Eropa terus berlanjut didorong oleh perbaikan permintaan domestik, meskipun belum mampu meningkatkan in­flasi yang masih rendah. Ekonomi Jepang diperkirakan masih lemah seiring dengan konsumsi yang me­lemah.

Di sisi lain, perekonomian Tiong­kok diperkirakan masih melambat, di tengah berbagai upaya stimulus, baik melalui kebijakan moneter dan fiskal, serta reformasi di sisi penawaran.

Baca Juga :  Kreasi Ditengah Pandemi, Patriot Desa Latih Emak-emak Rengasjajar

Reaksi pasar terhadap perlam­batan ekonomi dan konsistensi dalam upaya liberalisasi pasar keuangan di Tiongkok menimbul­kan tekanan di pasar sahamnya. Ke depan, risiko terkait perlambatan ekonomi Tiongkok dan terus menu­runnya harga komoditas global per­lu dicermati.

Rupiah Menguat

Penurunan BI rate ini mem­berikan dampak langsung ter­hadap pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah saat ini ter­pantau menguat dan USD lang­sung anjlok.

Berdasarkan data perdagangan Reuters, Kamis (14/1/2016), USD bergerak turun ke level terendahn­ya di Rp 13.810. Padahal, beberapa waktu lalu, USD sempat melesat ke level tertingginya di angka Rp 13.960.

Mata uang Paman Sam tersebut memang terus naik-turun dengan sangat cepat bak roller coaster. Selain faktor dalam negeri, perger­akan rupiah juga dipengaruhi fak­tor eksternal.

Perlambatan ekonomi China dan terus merosotnya harga minyak du­nia menekan laju rupiah.

Ditambah, belum adanya kepas­tian dari bank sentral AS The Fed­eral Reserve (the Fed) untuk menai­kkan tingkat suku bunganya secara gradual di tahun ini.