Wuku Lima si Maha Pandita

16731_100705086623688_100000525912537_18002_4869116_nKEJAYAAN Pakuan dan Pajajaran keseluruh di masanya, juga masa surutnya, tak bisa dilepaskan dari peran pandita, kaum intelektual (dalam terminologi agama Islam disebut ulama) dan pemimpin pemerintahan (umara). Sanghyang Siksa­kanda Karesian, mengisyaratkan peran strategis pandita – intelektual – ulama.

Bang Sem Haesy

PERAN intelektual berada di wilayah gagasan dan pemikiran, termasuk penelitian dan pengem­bangan sesuatu yang berada di dalam dan di luar empirisma ma­nusia. Mereka memelihara daya kreatif dan inovasi, termasuk memberikan energi baru kehidu­pan dengan kemampuan mengelo­la energi spiritual dan religi. Dalam konteks pemikiran politik, mereka yang memainkan peran high poli­tic – politik tingkat tinggi. Mereka tidak terjun ke politik praktis.

Sebaliknya, para penyelengga­ra pemerintahan atau umara dan politisi, praktisi ekonomi, dan lainnya bermain dalam tataran praktis pragmatis. Para pandita – intelektual – ulama bersama-sama rakyat melakukan kontrol atas pe­nyelenggaraan pemerintahan. Merekalah yang me­negur dan meluruskan, memberi peringatan kepada kalangan yang berada di wilayah praktis pragmatis (pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat) untuk mengelola fungsinya sesuai den­gan jalur, on the right track.

Peran para intelektual itu termaktub dalam maha pandita. Tercermin dari pola dan cara komunikasi dalam menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya. Rahasia kehidupan tersimpan dalam tuturan, nasi­hat, kritik, dan teguran mereka terhadap penyeleng­garaan pemerintahan (Sandi ma karasa si tutur).

BACA JUGA :  Menikmati Hidangan Bersantan Tanpa Cemas: Panduan Batas Aman dan Risiko Kesehatannya

Hasil kajian, penelitian, perenungan olah rasa mereka yang menjelma dalam gagasan, konsep, dan produk pemikiran meliputi seluruh aspek, dan mem­buka ruang imajinasi kolektif, sehingga memungkinkan pemerintah dan para praktisi di seluruh aspek kehidu­pan memahami batasnya (tapa ma karasa si langlang).

Hal itu berpijak pada komitmen dan sikap yang konsekuen dan konsisten terhadap dimensi peran dan fungsinya yang kokoh. Terutama, karena mereka men­yadari di mana dan bagaimana mesti ‘duduk’ dalam keseluruhan konteks penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. Mere­ka memberikan hasil olah fikir tanpa harus merecoki penyelenggaraan dan teknis operasional penyeleng­garaan pemerintahan (lungguh ma karasa si pageuh).

Dengan sikapnya semacam itu, para pandita – in­telektual menjadi mitra utama pemerintah dan prak­tisi kehidupan kehidupan sehari-hari, dalam men­cari dan menemukan solusi atas berbagai masalah yang tumbuh dan berkembang. Termasuk solusi dalam menemukan cara harmonisasi melihat realitas obyektif yang wajar, sampai kepada berkembangn­ya fakta-fakta brutal yang bertumbuhan di tengah masyarakat (misalnya krisis ekonomi dan dampak ikutannya). Termasuk gejolak yang terjadi di tengah masyarakat dalam menghadapi perubahan. Sebagai mitra, para pandita – intelektual memberikan ke­mungkinan dan kepastian, bahkan di dalam kemus­tahilan (pretyaksa ma kara si sembawa).

BACA JUGA :  Apa Itu Soft Spoken? Mengenal Arti dan Ciri-ciri Kepribadian yang Lembut dan Menenangkan

Para pandita – intelektual dalam keseluruhan kon­teks kejayaan Pakuan – Pajajaran di masa lalu, merupa­kan golongan yang bertkewajiban memberi tanpa diberi. Terutama karena pemerintah – khasnya Prabu Siliwangi dan Prabu Surawisesa – telah memberikan mereka wewenang atas wilayah perdikan sebagai kawikuan. Wilayah pemusatan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan religi, dengan memberikan hak mengolah sumberdaya alam untuk membiayai kehidu­pannya (keleupaseun ma karasa madumi tan kaduman).

Pandita – intelektual semacam itu menempat­kan dirinya pada satu posisi yang berwibawa dan dihormati. Terutama, karena mereka mengingatkan pemerintah dan seluruh praktisi kehidupan secara tanpa batas (manghingetan tanpa hingga(n)).

Itulah lima peran dahsyat para intelektual, yang tak perlu dirusak oleh kehendak menjadi praktisi dan bermain di low politic (sakitu wuku lima si maha pandita).

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================