KEJAYAAN Pakuan dan Pajajaran keseluruh di masanya, juga masa surutnya, tak bisa dilepaskan dari peran pandita, kaum intelektual (dalam terminologi agama Islam disebut ulama) dan pemimpin pemerintahan (umara). Sanghyang SiksaÂkanda Karesian, mengisyaratkan peran strategis pandita – intelektual – ulama.
Bang Sem Haesy
PERAN intelektual berada di wilayah gagasan dan pemikiran, termasuk penelitian dan pengemÂbangan sesuatu yang berada di dalam dan di luar empirisma maÂnusia. Mereka memelihara daya kreatif dan inovasi, termasuk memberikan energi baru kehiduÂpan dengan kemampuan mengeloÂla energi spiritual dan religi. Dalam konteks pemikiran politik, mereka yang memainkan peran high poliÂtic – politik tingkat tinggi. Mereka tidak terjun ke politik praktis.
Sebaliknya, para penyelenggaÂra pemerintahan atau umara dan politisi, praktisi ekonomi, dan lainnya bermain dalam tataran praktis pragmatis. Para pandita – intelektual – ulama bersama-sama rakyat melakukan kontrol atas peÂnyelenggaraan pemerintahan. Merekalah yang meÂnegur dan meluruskan, memberi peringatan kepada kalangan yang berada di wilayah praktis pragmatis (pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat) untuk mengelola fungsinya sesuai denÂgan jalur, on the right track.
Peran para intelektual itu termaktub dalam maha pandita. Tercermin dari pola dan cara komunikasi dalam menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya. Rahasia kehidupan tersimpan dalam tuturan, nasiÂhat, kritik, dan teguran mereka terhadap penyelengÂgaraan pemerintahan (Sandi ma karasa si tutur).
Hasil kajian, penelitian, perenungan olah rasa mereka yang menjelma dalam gagasan, konsep, dan produk pemikiran meliputi seluruh aspek, dan memÂbuka ruang imajinasi kolektif, sehingga memungkinkan pemerintah dan para praktisi di seluruh aspek kehiduÂpan memahami batasnya (tapa ma karasa si langlang).
Hal itu berpijak pada komitmen dan sikap yang konsekuen dan konsisten terhadap dimensi peran dan fungsinya yang kokoh. Terutama, karena mereka menÂyadari di mana dan bagaimana mesti ‘duduk’ dalam keseluruhan konteks penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. MereÂka memberikan hasil olah fikir tanpa harus merecoki penyelenggaraan dan teknis operasional penyelengÂgaraan pemerintahan (lungguh ma karasa si pageuh).
Dengan sikapnya semacam itu, para pandita – inÂtelektual menjadi mitra utama pemerintah dan prakÂtisi kehidupan kehidupan sehari-hari, dalam menÂcari dan menemukan solusi atas berbagai masalah yang tumbuh dan berkembang. Termasuk solusi dalam menemukan cara harmonisasi melihat realitas obyektif yang wajar, sampai kepada berkembangnÂya fakta-fakta brutal yang bertumbuhan di tengah masyarakat (misalnya krisis ekonomi dan dampak ikutannya). Termasuk gejolak yang terjadi di tengah masyarakat dalam menghadapi perubahan. Sebagai mitra, para pandita – intelektual memberikan keÂmungkinan dan kepastian, bahkan di dalam kemusÂtahilan (pretyaksa ma kara si sembawa).
Para pandita – intelektual dalam keseluruhan konÂteks kejayaan Pakuan – Pajajaran di masa lalu, merupaÂkan golongan yang bertkewajiban memberi tanpa diberi. Terutama karena pemerintah – khasnya Prabu Siliwangi dan Prabu Surawisesa – telah memberikan mereka wewenang atas wilayah perdikan sebagai kawikuan. Wilayah pemusatan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan religi, dengan memberikan hak mengolah sumberdaya alam untuk membiayai kehiduÂpannya (keleupaseun ma karasa madumi tan kaduman).
Pandita – intelektual semacam itu menempatÂkan dirinya pada satu posisi yang berwibawa dan dihormati. Terutama, karena mereka mengingatkan pemerintah dan seluruh praktisi kehidupan secara tanpa batas (manghingetan tanpa hingga(n)).
Itulah lima peran dahsyat para intelektual, yang tak perlu dirusak oleh kehendak menjadi praktisi dan bermain di low politic (sakitu wuku lima si maha pandita).
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















