1426125287-foto_bJAKARTA, TODAY – Badan Sepak Bola Rakyat Indonesia (Basri) meminta voter untuk tidak hanya diam meli­hat kasus tersang­kut masalah hukum ketua umum PSSI La Nyalla Mattalitti.

Menurut Ketua Umum Basri Eddy So­fyan, harusnya ada gerakan dari para vot­er karena organisasi mereka telah diperma­lukan. Kemudian, ada pelanggaran hukum dari simbol organisasi, yang jelas-jelas tak sesuai dengan statuta mereka sendiri.

“Pendapat Basri, maka bisa dili­hat bahwa memang ada kartel di dalam sepakbola, karena voter ini diam saja, sudah tahu ada yang salah,” katanya, dalam Seminar Revolusi Mental Sepak Bola In­donesia bersama Basri, Rabu (6/4) siang di hotel atlet century.

Karena kondisi ini, Basri pun mengusulkan agar muncul fed­erasi baru sepak bola di Indonesia karena kartel ini tak bisa ditoleransi lagi. Revolusi besar itu, lanjut dia, tak sekadar muncul, tapi tetap mema­sukkan sejarah PSSI dalam anggaran dasar federasi baru tersebut.

“Sisi sejarahnya, sisi sepakbola sebagai perjuangan harus tetap ada dalam azas dasar sepakbola Indone­sia yang ada di federasi baru nanti, kami usulkan ini ke presiden nanti,” tutur Eddy.

Wacana untuk membentuk fed­erasi baru sebagai solusi menyele­saikan kondisi sepakbola Indonesia saat ini kembali mengemuka. Namun begitu, nama PSSI akan tetap ada karena dinilai memiliki sejarah tinggi bagi sepakbola tanah air.

Eddy menilai kondisi saat ini seharusnya menjadi momen untuk merevolusi mental dari semua pi­hak untuk memperbaiki sepakbola Indonesia. Namun kenyataannya hal itu sulit dilakukan karena tidak ada keinginan dari sejumlah pihak.

“Jujur saya kami prihatin dan kondisi ini harus berakhir. Ketika Ke­menpora membekukan PSSI itu kan yang jadi persoalan adalah mental. Dan pemerintah ingin adanya rev­olusi mental,” ujar Eddy.

Jika keinginan itu sulit dilakukan, dia berpendapat ada beberapa cara untuk mereformasi sepakbola ketika PSSI saat ini tidak mendukungnya. Salah satunya adalah membuat fed­erasi baru untuk benar-benar men­ciptakan mental yang bersih.

“Caranya, buat federasi baru, federasi baru yang lama dibubar­kan. Susun pengurus baru, ajukan ke FIFA. Kita kembalikan ke vooter-vooter apakah ada keinginan untuk merevolusi mental dan memperbaiki sepakbola Indonesia? Kalau iya, itu bisa dilakukan,” tegasnya.

Namun membuat keputusan ekstrim seperti itu, lanjut Edy, harus juga mempertimbangkan dari segi sejarah. Sebab, PSSI merupakan sim­bol perjuangan sejarah sepakbola di tanah air.

“Tapi karena ada kondisi di ten­gah jalan yang seperti ini, harus di­munculkan (ide membuat federasi baru). Tapi tetap harus ada nama PSSI karena merupakan sejarah sepakbola Indonesia. Tidak bisa dibuang begitu saja,” ucapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Yesayas Oktovianus, wartawan senior, yang menilai bahwa membuat federasi baru adalah jalan terakhir, meski sangat sulit dilakukan karena melihat sejarah PSSI. Cara kedua adalah melalui KLB.

“Tolong pahami jelas makna presiden, reformasi total. Ada dua pilihan yaitu kongres untuk menun­juk pengurus baru lewat mekanisme FIFA atau bentuk federasi baru. Saya berpendapat dua-duanya. Federasi baru, memang sangat berat karena harus melupakan sejarah. Mung­kin hanya ganti nama saja, lapor ke FIFA,” kata Yesayas.

Menurut dia, pemerintah tidak mungkin mencabut pembekuan PSSI yang telah berjalan hampir satu ta­hun apabila nantinya tidak ada pe­rubahan.

“Ketika surat pembekuan, pemer­intah sudah kudeta. Jangan tang­gung-tanggung langsung saja sapu. Bersikap lebih gentle. Jangan malu-malu. Namanya kudeta tidak pake aturan resmi,” kata dia.

Pemerintah Dukung Pembubaran

Badan Sepak Bola Rakyat Indone­sia (BASRI) berharap adanya revolusi mental untuk sepakbola Tanah Air. Keinginan tersebut disampaikan lang­sung oleh Ketua Umum BASRI, Eddy Sofyan, saat melakukan diskusi di Ho­tel Century Park, Jakarta, Rabu (6/4).

Eddy menilai kurangnya prestasi di sepakbola Indonesia, bukanlah kesalahan dari para pemain. Namun, akibat dari buruknya pengurus PSSI dalam mengurus tata kelola sepak bola nasional.

Menurut Eddy, sekarang waktu yang tepat untuk merevolusi PSSI. Pasalnya, induk sepakbola nasional tersebut tengah dibekukan oleh Men­pora Imam Nahrawi, sehingga mer­eka tidak mempunyai kekuatan.

“Mental stakeholder sepakbola mesti di revolusi. Terutama un­tuk pengurus PSSI. Mereka rentan menerima suap. Saya rasa pemer­intah mesti turun tangan untuk melakukan revolusi ini. Sebab ma­salah ini sudah masuk hingga ke akar rumput sepakbola nasional,” kata Edy di sela-sela diskusi.

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olah Raga Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, yang datang ke acara itu juga mengungkapkan hal yang serupa. Ia mengatakan revolusi men­tal bukanlah sesuatu yang baru bagi pemerintah, karena sudah sejak lama mereka melakukannya.

“Saya mendukung penuh dengan revolusi mental yang diinginkan BASRI. Tapi hal ini jangan hanya sekedar wa­cana saja,” pungkasnya.

(Imam/net)