
“Kami juga mau menyadarÂkan sekolah-sekolah swasta agar lebih fleksibel. Karena, pendidiÂkan merupakan hak setiap orang. Dan permasalahan di dunia penÂdidikan harus diselesaikan bersaÂma-sama,†kata dia.
Luthfie menjelaskan, Disdik memiliki dua indikator dalam mewujudkan visi Kabupaten BoÂgor termaju di Indonesia. Yakni pengentasan angka buta huruf dan menuntaskan RLS sembiÂlan tahun. “RLS masih jadi maÂsalah memang. Tapi kalau melek huruf, sudah diatas 90 persen,†pungkasnya.
Soal kesadaran memang jadi kendala yang juga cukup komÂpleks. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 4 Leuwiliang, Suparti mengungkapkan sebuah fakta miris. Di kawasan Kampung Pabangbon, Desa Cibeber II, masih banyak orang tua yang lebih meÂmilih anaknya menikah usai lulus SD ketimbang sekolah.
“Memang ada dan tidak seÂdikit yang seperti itu. SMPN 4 Leuwiliang juga program kelas jauh untuk uoaya jemput bola ke pelosok supaya masyarakat bisa mengenyam pendidikan SMP. Tapi, dengan infrastruktur ke sekolah kami dan sekolah kami juga punya gedung yang memaÂdai, kebiasan mengawini anak terutama perempuan di usia dini bisa diminimalisir,†tukas SuparÂti.
(Rishad Noviansyah)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















