alfian mujaniKAKEK tua berbaju lu­suh ini bergegas me­masuki pusat service hape. Ia membawa hape model lama yang tak diproduksi lagi. Hape tua ini dibelinya saat ketiga anaknya su­dah berkeluarga semua dan tinggal di Jakarta, mengadu nasib. Dengan hape ini, awalnya se­mua terasa lancar kare­na kabar dan komunikasi tak pernah terputus.

Saat ini si kakek merasa ada yang tidak benar dengan hape tuanya itu. “Mas, tolong dicek hape saya ini, kok berbeda sekali den­gan ketika saya baru beli dulu ya,’’ kata si Kakek. Setelah lama diperiksa, tukang service hape bilang, “Tak ada yang rusak, Kek. Se­mua normal. Emang apa yang terasa lain ya kakek?” Dengan mata berkaca-kaca si Kakek berkata lirih, “Kalau tak rusak, lalu kenapa ya sudah dua bulan hape ini tidak bunyi? Biasan­ya, paling sedikit setiap minggu anak-anakku gantian menelpon.”

Pesan moralnya, sempatkan berkomuni­kasi dengan orang tua kita. Mereka sungguh menunggu kabar bahagia dari anak-anaknya. Suara anak-anaknya adalah irama terindah bagi orang tua, kabar baik anak-anaknya ada­lah kabar terindah bagi orang tua. Janganlah hanya menelpon ketika ada masalah. Baha­giakan mereka dengan apapun caranya. Bagi yang orangtuanya sudah meninggal, sapalah mereka dengan doa yang khusuk.