Hadapi MEA, Indocement Sekolahkan 10.000 Tukang Sampai 2020

C4-09-062016-DidaktikaPT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), sebagai produsen semen Tiga Roda, memiliki Sekolah Tukang Tiga Roda. Sekolah ini untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan bagi tenaga konstruksi supaya bisa setara dengan tenaga yang terampil yang sudah memiliki sertifikasi.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Pembentukan sekolah tu­kang tidak hanya didiri­kan oleh perseroan secara individu, tetapi menggandeng beberapa pihak, seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Perguruan Tinggi Negeri (LPN), dan Lembaga Pengemban­gan Jasa Konstruksi (LPJK).

Koordinator Communication Indocement Awards Aulia Fi­kri menjelaskan sekolah tukang ini sudah didirikan sejak 2014. Setelah berjalan lebih dari satu tahun, sekolah ini sudah meng­hasilkan bibit 1.000 tukang yang berkualitas dan mumpuni.

BACA JUGA :  Sekolah Rakyat Buka 5.127 Formasi Tenaga Kependidikan Tahun 2026, Simak Posisi, Syarat, dan Jadwal Seleksinya

“Ini sekolah tukang kita kasih gratis. pemerintah lewat Kemen­terian PUPR juga mendukung langkah ini. Saat ini ada 1.000 tukang, mereka yang lulus dan sertifikasi profesi dari kami, dan nantinya sertifikasi itu bisa mem­beri nilai tambah bagi mereka (tu­kang),” ucap Fikri.

Fikri menjelaskan, hingga 2020 perusahaan membutuhkan 10.000 tukang yang bersertifikasi dari Sekolah Tukang Tiga Roda. Angka ini sangat jauh dari posisi yang ada saat ini baru mencapai 1.000 tukang.

Fikri menekankan pemban­gunan sekolah tukang ini guna menghadapi ajang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sehingga para pekerja (tukang) bangunan yang dimiliki Indonesia bisa ber­saing dengan luar negeri.

BACA JUGA :  Beasiswa AGRTPS 2026 Resmi Dibuka, Mahasiswa Indonesia Berkesempatan Kuliah Riset di Australia dengan Pendanaan Penuh

“Ini juga bagian Corporate Social Reponsibility (CSR) kita. Ini yang harus kita lakukan. Ini dijalankan guna menghadapi MEA,” jelas Fikri.

Fikri melanjutkan pengajar sekolah tukang terdiri dari be­berapa pengajar yang datang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Nantinya, pengajar tersebut diberikan modul dan bahan pelajaran yang berstan­dar tinggi. “Mereka menginap tiga hari dua malam yang ikut dalam sekolah tukang. Mereka menginap di Bogor, Bali, Malang, Palangkaraya, dan masih banyak lainnya. Mereka diberikan modul dari kita, setelah itu ujian. Kalau lolos makan diberikan sertifikasi. Pengajarnya juga dengan guru yang profesional,” papar Fikri.

 

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================