
MENGAPA harga pangan selalu melonjak saat memasuki puasa hingga Lebaran? Padahal berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan lonjakan harga tersebut, mulai dari impor hingga menggelar operasi pasar di berbagai daerah.
Oleh : Alfian Mujani
[email protected]
Namun upaya pemerintah tersebut sepÂerti tak beguna. Harga tetap melambung tinggi. Menurut para pedagang pasar, geÂjolak harga pangan yang terus berulang di setiap tahunnya ini terjadi karena ada beberapa piÂhak yang memiliki kuasa untuk mengatur harga dan pasokan panÂgan di pasar. Pengendalian terhadap harga pangan di pasar dilakukan dengan membatasi jumlah pasoÂ
kan yang dijual sehingga menyeÂbabkan naiknya harga komoditas pangan.
“Karena ada yang memanfaatÂkan itu namanya para kartel, para konglomerat yang memanfaatkan kesempatan itu. Pas orang lagi butuh dikeluarkan barangnya sedikit-sedikit, sudah 2 hari 3 hari keluarin dikit-dikit harganya naik, nanti keluarin dikit harganÂya naik,†jelas Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar SeluÂruh Indonesia (APPSI), Ngadiran kepada detikfinance, Minggu (12/6/2016).
Pihaknya juga menambahkan bahwa apabila seluruh pasokan pangan dikeluarkan secara meÂnyeluruh, gejolak harga di pasar tidak akan terjadi begitu tinggi. Kenaikan harga daging saat ini misalnya yang sudah melonjak cukup tajam dibandingkan biÂasanya.
“Jadi kalau dikeluarkan baÂrangnya stabil saja nggak akan terjadi naik yang begini. Paling naiknya sedikit lah, katakan dagÂing biasanya Rp 100.000 kiloÂgram (kg), nah mungkin kalau ini naik paling Rp 105.000 kilogram (kg) sekarang kan Rp 120.000 kilogram (kg). Itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang mempunÂyai kekuatan untuk mengeruk unÂtung besar,†tutur Ngadiran.
Ngadiran menyebutkan bahÂwa kendali atas bahan pangan di Indonesia masih cenderung lemah. Pemerintah yang memiÂliki kuasa untuk mengendalikan harga pangan kalah dengan keÂlompok tertentu yang akhirnya menyebabkan gejolak harga panÂgan di pasar. Berbeda dengan MaÂlaysia yang memiliki kendali atas harga pangan di tangan pemerinÂtahnya.
“Karena kan Indonesia ini pasar bebasnya memang nggak dikontrol sama sekali. Kalau di Malaysia kan dikontrol barang kebutuhan pokok itu kan ada Harga Eceran Tertinggi (HET) ditentukan. Kalau menjual lebih dari HET kena sanksi, bisa saja dari peringatan mungkin bisa saja sampai pembekuan izin usaha dan lain-lain itu kan ada undang-undangnya. Di Indonesia undang-undang ada, tapi kan penerapanÂnya yang nggak ada,†tutupnya.
Lantas apa pandangan pemerÂintah atas fenomena menggilanya harga pangan di bulan puasa ini? Menteri Pertanian Andi Amran malah mengaku heran konsumsi pangan masyarakat justru meninÂgkat saat puasa sehingga memicu lonjakan harga bahan pokok sepÂerti daging sampai bawang goreng.
Pedagang pasar membenarÂkan adanya kenaikan konsumsi masyarakat saat Ramadhan. BeÂlanja masyarakat saat bulan puaÂsa cenderung meningkat dibandÂingkan bulan-bulan biasanya. Masyarakat cenderung membeÂlanjakan uangnya lebih banyak makanan di saat bulan puasa.
Peningkatan konsumsi maÂsyarakat saat puasa meningkat lantaran keterbatasan konsumsi di siang hari. Keinginan masyaraÂkat terhadap konsumsi makanan juga lebih beragam karena terbaÂtasnya keinginan sejak pagi hari sampai sore hari, maka mereka menginginkan banyak hal di saat berbuka puasa.
Meningkatnya hasrat akan konsumsi berbagai varian makanÂan dan minuman membuat belanÂja masyarakat meningkat hingga 8% dibandingkan bulan biasa. “Kita biasanya minum nggak usah pakai gula juga nggak apa-apa kan, ternyata karena buka puasa hasratnya kan. Kolak itu kalau nggak puasa kan nggak pakai koÂlak. Jadi biasanya ubi nggak laku sekarang laku. Variasi makanan meningkat, kebutuhan orang meÂningkat memang sedikit-sedikit tapi memang berubah. Kalau itu bisa lebih dari 8% kalau dirata-ratakan,†jelas Ngadiran.
Pihaknya memberi contoh betapa konsumtifnya belanja pangan masyarakat saat puaÂsa. Misalnya, masyarakat biasa mengonsumsi satu jenis pangan saja kemudian menambah dafÂtar belanjaan yang dibeli. Hal ini membuat tingginya konsumsi maÂsyarakat saat puasa.
“Biasanya nggak usah beli ayam kan sekarang beli ayam, waÂlaupun ekonomi susah ternyata beli ayam. Biasanya nggak pakai kangkung sekarang pakai kangÂkung itu juga ditambah telur. Makan biasanya nggak usah pakai cabai sekarang pakai cabai,†tuÂtur Ngadiran.
Peningkatan penjualan pun terjadi pada beberapa bahan pangan seperti sirup, gula, dan minyak goreng. Peningkatan ini terjadi karena meningkatnya konÂsumsi masyarakat terhadap minuÂman manis dan gorengan saat berbuka puasa.
“Memang ada beberapa baÂrang-barang tertentu yang meninÂgkat. Orang nggak biasa beli sirup beli sirup, orang nggak biasa beli gulanya 1 kilogram (kg) sekarang beli gulanya 1,5 kilogram (kg) kadang 2 kilogram (kg). Orang biÂasa beli minyak gorengan 0,5 kiloÂgram (kg) sekarang beli 1 kilogram (kg),†kata Ngadiran.
Bagi Halaman
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















