B1-13-062016-Bisnis-TodayMENGAPA harga pangan selalu melonjak saat memasuki puasa hingga Lebaran? Padahal berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan lonjakan harga tersebut, mulai dari impor hingga menggelar operasi pasar di berbagai daerah.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Namun upaya pemerintah tersebut sep­erti tak beguna. Harga tetap melambung tinggi. Menurut para pedagang pasar, ge­jolak harga pangan yang terus berulang di setiap tahunnya ini terjadi karena ada beberapa pi­hak yang memiliki kuasa untuk mengatur harga dan pasokan pan­gan di pasar. Pengendalian terhadap harga pangan di pasar dilakukan dengan membatasi jumlah paso­

kan yang dijual sehingga menye­babkan naiknya harga komoditas pangan.

“Karena ada yang memanfaat­kan itu namanya para kartel, para konglomerat yang memanfaatkan kesempatan itu. Pas orang lagi butuh dikeluarkan barangnya sedikit-sedikit, sudah 2 hari 3 hari keluarin dikit-dikit harganya naik, nanti keluarin dikit hargan­ya naik,” jelas Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Selu­ruh Indonesia (APPSI), Ngadiran kepada detikfinance, Minggu (12/6/2016).

Baca Juga :  Harga Mie Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Ini Kata Mentan

Pihaknya juga menambahkan bahwa apabila seluruh pasokan pangan dikeluarkan secara me­nyeluruh, gejolak harga di pasar tidak akan terjadi begitu tinggi. Kenaikan harga daging saat ini misalnya yang sudah melonjak cukup tajam dibandingkan bi­asanya.

“Jadi kalau dikeluarkan ba­rangnya stabil saja nggak akan terjadi naik yang begini. Paling naiknya sedikit lah, katakan dag­ing biasanya Rp 100.000 kilo­gram (kg), nah mungkin kalau ini naik paling Rp 105.000 kilogram (kg) sekarang kan Rp 120.000 kilogram (kg). Itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang mempun­yai kekuatan untuk mengeruk un­tung besar,” tutur Ngadiran.

Baca Juga :  Harga Mie Instan Bakal Naik 3 Kali Lipat, Ini Kata Mentan

Ngadiran menyebutkan bah­wa kendali atas bahan pangan di Indonesia masih cenderung lemah. Pemerintah yang memi­liki kuasa untuk mengendalikan harga pangan kalah dengan ke­lompok tertentu yang akhirnya menyebabkan gejolak harga pan­gan di pasar. Berbeda dengan Ma­laysia yang memiliki kendali atas harga pangan di tangan pemerin­tahnya.

“Karena kan Indonesia ini pasar bebasnya memang nggak dikontrol sama sekali. Kalau di Malaysia kan dikontrol barang kebutuhan pokok itu kan ada Harga Eceran Tertinggi (HET) ditentukan. Kalau menjual lebih dari HET kena sanksi, bisa saja dari peringatan mungkin bisa saja sampai pembekuan izin usaha dan lain-lain itu kan ada undang-undangnya. Di Indonesia undang-undang ada, tapi kan penerapan­nya yang nggak ada,” tutupnya.