SUATU hari, ayam mengeÂluh kepada sapi tentang ketidakadilan hidup. Ayam rupanya kecewa kaÂrena wajahnya tak sebanÂyak wajah sapi dipampang di etalase supermarket, toko, dan warung. Setiap produk yang berasal dari sapi pasti ada gambar sapi, baik itu susu maupun daging sapi kalengan. SeÂmentara nasib ayam berÂbeda. Tidak setiap produk dari ayam ditempeli gambar wajah ayam.
Ayam merinci nasibnya. Tak ada telur ayam yang ditempeli gambar ayam. Bahkan KFC yang jelas-jelas menjual ayam goreng, malah foto kakek tua jenggotan yang pamerkan. “Yang lebÂih tidak adali lagi wahai sapi, adalah fakta bahÂwa telur ayam ketika langsung digoreng ceplok malah dinamakan telur mata sapi,’’ kata ayam.
Sapi tersenyum dan berkata: “Nasib kan terÂgantung jasa kita wahai ayam. Manusia melihat jasaku kaumku lebih banyak ketimbang kaumÂmu. Bajak sawah ya saya, ditunggangi ya saya. Ayam berkata: “Tapi kami kan juga, daging ayam dimakan, bahkan bulu ayam jadi kemuceng.†Sapi menjawab: “Kami bekerja dan berguna ketika kami masih hidup. Itu namanya jasa. SeÂmentara kamu berguna ketika sudah mati. Itu namanya warisan.†Ayam pun terdiam seribu baÂhasa, menunduk malu tak berani angkat kepala.
Nah, mumpung masih hidup marilah kita berbuat dan mempersembahkan banyak manÂfaat. Ketika sudah wafat kelak, ceritanya tak dan ditutup dengan kata “cukup sekian.â€
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















