
Sejauh ini, BPOM tak sampai menyÂita vaksin-vaksin yang dibeli lewat jalur tak resmi. “Kalau bukan dari sumber resmi, dapat diduga atau ada kemungkiÂnan dia palsu. Tapi, belum tentu palsu. Jadi, enggak kita sita. Kita segel di temÂpat. Ini baru diduga dia palsu karena dari sumber yang tak resmi,†kata Johan dalam jumpa pers, kemarin.
BPOM juga menemui kesulitan menganalisis kandungan vaksin-vaksin palsu tersebut. Para pelaku memalsuÂkan vaksin yang merupakan produk-produk PT Biofarma, PT Sanofi Grup, dan PT Glaxo Smith Kline (GSK). Di anÂtara produknya, yaitu vaksin Engerix B, vaksin Pediacel, vaksin Eruvax B, dan vaksin Tripacel. Kemudian, vaksin PPÂDRT23, vaksin Penta-Bio, vaksin TT, dan vaksin campak. Selain itu, vaksin hepaÂtitis B, vaksin polio bOPV, vaksin BCG, dan vaksin Harvix.
Badan Pengawas Obat dan MakanÂan (BPOM) mengakui ada kelemahan dalam pengawasan atas peredaran vakÂsin palsu, yang diperkirakan sudah terÂjadi sejak tahun 2003 lalu.
“Dari 2008, 2013, 2014, 2015, kami sudah melakukan tindakan sesuai keÂwenangan kami. Tapi kalau memang masih ada, saya harus mengakui itu salah Badan POM sebagai yang bertangÂgung jawab atas keamanan mutu dan manfaat,†kata Johan.
Menurut dia, vaksin palsu umumnya diperoleh melalui penyalur tak resmi. Bahdar menduga peredaran vaksin palsu di sarana pelayanan kesehatan disebabkan permintaan sebagian maÂsyarakat akan vaksin di luar program pemerintah. “Kalau program pemerÂintah yang sembilan vaksin itu gratis. Tetapi ada yang meminta tambahan, ada yang enggak mau buatan dalam negeri, kepingin impor,†tuturnya.
Permintaan itu disambut oleh disÂtributor vaksin ilegal, yang biasa diseÂbut freelance. Mereka menawarkan vaksin dengan harga murah ke sarana pelayanan kesehatan. “Freelance itu seperti pedagang asongan. Dia datang ke tempat-tempat (sarana pelayanan keÂsehatan) bawa vaksin, tapi perusahaan di belakangnya enggak jelas siapa,†kata dia.
Presiden Jokowi juga meminta agar kasus ini diusut tuntas. “Kasus vaksin palsu sebuah kejahatan luar biasa. KaÂlau kita lihat generasi-generasi yang ada di sini, anak-anak, ini kalau tidak divakÂsin, itu jangka panjangnya akan sangat buruk bagi sumber daya manusia kita,†kata dia, kemarin.
Jokowi mengibaratkan seorang anak semestinya divaksin polio, ternyata yang diberikan bukan sebenarnya. “Artinya belum. Akan seperti apa-apa anak kita nantinya? Ini sangat berbahaya sekali,†tukasnya. .(Yuska Apitya Aji/ed:Mina)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














