
Seiring dengan pelemahan ekoÂnomi global dan penurunan berbÂagai harga komoditas ke titik terÂendahnya, Bank Dunia beberapa waktu lalu merevisi angka pertumÂbuhan ekonomi dunia. Sebelumnya angka pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan di angka 2,9% dan kemudian dipangkas ke angka 2,4%.
Semua negara di dunia juga mengalami akibat dari pelemahan ekonomi global tang turut berimbas pada angka pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara.
Menurut catatan Bank Dunia, penjualan berbagai barang komoÂditas diperkirakan belum beranÂjak naik dan bahkan diperkirakan mengalami penurunan. “Risiko eksternal sangat besar karena harga komoditas yang masih tetap rendah dan pertumbuhan perdagangan duÂnia tidak terlalu menjanjikan bahÂkan mengalami penurunan,†terang Rodrigo.
Selain itu, yang perlu diwaspaÂdai juga adalah kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang akan menaiÂkan suku bunga bank sentralnya atau Fed Fund Rate di tahun ini. “Kebijakan ekonomi Amerika SeriÂkat menjadi hal yang perlu diperÂtimbangkan,†tambah Chaves.
Saat ini, ekspor manufaktur InÂdonesia didominasi oleh produk teknologi rendah, peleburan materi (blending) dan perakitan. AkibatÂnya, Indonesia rentan terhadap perÂpindahan Iokasi perusahan-perusaÂhaan multi-nasional.
Selain rangkuman tantangan biÂdang manufaktur, laporan IEQ juga menganalisa berkembangnya deÂregulasi perdagangan dan dampak liberalisasi perdagangan pada biaya hidup, terutama harga pangan.
Laporan ini juga menjelaskan bagaimana pendapatan dan pengeÂluaran bank, pasar keuangan yang terbatas, serta persaingan dari pemerintah untuk mendapat sumÂber pembiayaan, berdampak pada tingginya suku bunga di Indonesia.(*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














