Memikat Bisnis Ketupat Lebaran

Ketupat milik Yusuf ber­tahan hingga tiga hari karena beras yang digunakan meru­pakan beras perak yang mahal. Yang menjadi pembeda antara ketupat milik Yusuf dengan ketupat lainnya ialah pen­gakuan dari kelurahan setem­pat. Yusuf mengaku bahwa di 2016 ini ketupat miliknya baru saja diperika oleh kelurahan setempat dan dinyatakan seb­agai ketupat yang layak untuk dikonsumsi.

“Artinya ketupat saya bebas dari bahan-bahan tak layak santap seperti formalin. Mere­ka memeriksa proses pembua­tan hingga memeriksa kebersi­han alat-alat yang saya pakai,” kata Yusuf.

BACA JUGA :  4 Tanaman Hias yang Cocok dan Aman untuk Kamar Anak

Yusuf dibantu empat pe­kerja yang merupakan warga kampung Cimahpar dalam pembuatan cangkang ketupat. Salah satunya bernama Otih. Wanita tersebut mengaku su­dah lama bekerja sebagai kuli pembuat cangkang ketupat. Pekerjaan tersebut diturunkan dari orangtuanya.

BACA JUGA :  Harga Minyak Tembus US$100, RI Hadapi Ancaman Ekonomi Besar

Ketika disinggung perihal pedagang musiman ketupat, Yusuf dengan tegas menolak pernyataan tersebut. Yusuf mengatakan bahwa dirinya bersama istri memproduksi ketupat setiap hari sejak 20 ta­hun silam.

“Sudah menjadi mata pencaharian saya, jadi saya enggak mau membuat kecewa pelanggan saya dengan menai­kkan harga ketika menjelang Lebaran,” tutupnya. (Herza/ Mgg/ed:Mina)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================