
Dengan kondisi ekonomi orang tua seperti itu, menuÂrut Durohman, pihak sekolah tidak mudah menerapkan aturan kedisiplinan secara ketat kepada anak-anak. MisÂalnya dalam soal penggunaan baju seragam dan sepatu. Sebab, banyak siswa yang tiÂdak memiliki baju seragam dalam jumlah yang cukup. ‘’Sekarang sudah mendingan, semua siswa sudah bisa mengÂgunakan pakaian seragam,’’ katanya.
Sebagai Kepala SDN yang berada di lingkungan MBR, Durohman juga dituntut unÂtuk bersikaplebih sabar mengÂhadapi para orang tua yang anaknya mengalami keterbeÂlakangan dalam belajar. ‘’Ada anak pindahan dari sekolah lain dengan prestasi jeblok, ya tetap harus kita terima dan kita bimbing di sini,’’ katanya.
Yang menarik, anak-anak dari kalangan masyarakat kurang mampu ini ternyata memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang lingkunÂgan hidup dan penghijauan. Ini bisa dilihat dari sejumlah pertanyaan yang diajukan Amel Amalia Dian Puspitasari dalam edukasi pohon sebelum acara penanaman dilakukan.
Puluhan anak berebut menjawab pertanyaan seputar manfaat dari kegiatan menaÂnam pohon. Dan, ternyata yang mengacungkan tanganya memamang bisa menjawab. ‘’Pada saat diberikan penjelaÂsan mengenai lingkungan hidÂup dan penghijauan, sebagian besar murid tampaknya tidak tertib, tetapi ternyata mereka mendengarkan apa yang disÂampaikan. Mereka ngerti,’’ kata Amel.
Edukasi pohon dengan metode kuis ini selalu memÂberikan hiburan bagi anak-anak dan para orang tua murid yang ikut terlibat dalam acara penanaman pohon ini. Selain Kepala SDN Semeru 5 dan para guru, juga hadir Sekretaris BoÂgor Hejo Tato Marsito.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















