Bunga Acuan BI Ditahan 6,5 %

Oleh karena itu, menurut dia, pelonggaran kebijakan moneter yang telah diambil masih memadai untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi. Juda memperkirakan den­gan pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di rentang 4,9-5,0 pada kuartal II 2016. “Saya yakin akan lebih tinggi dibanding kuartal I yang sebesar 4,92%,” ujar dia.

Juda menerangkan Anggota De­wan Gubernur juga menyepakati struktur suku bunga (term struc­ture) operasi moneter adalah 5,25% untuk tenor 7 hari, 5,45% untuk dua minggu. Kemudian 5,7% untuk 1 bu­lan, 6,1% untuk 3 bulan, 6,3% untuk 6 bulan, 6,4% untuk 9 bulan dan 6,5% untuk 12 bulan.

BACA JUGA :  Wali Murid di Sukaraja Keluhkan Sistem SPMB Kabupaten Bogor 2026

Secara umum, menurut dia, sta­bilitas makroekonomi terjaga, yang tercermin dari inflasi yang sesuai radar BI di 4% plus minus 1%, de­fisit transaksi berjalan 2−2,2% dari Produk Domestik Bruto, dan nilai tukar rupiah yang stabil. “Transmi­si kebijakan moneter ke suku bunga perbankan juga semakin baik,” tan­dasnya.

Sebelumnya, dalam Rapat De­wan Gubernur (RDG) Bank Indone­sia (BI) pada 15-16 Juni 2016 memu­tuskan penurunan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,50%, dengan suku bunga Deposit Facility turun sebe­sar 25 bps menjadi 4,50% dan Lend­ing Facility turun sebesar 25 bps menjadi 7,00%.

BACA JUGA :  Orang Tua Wajib Tahu, Ini Jarak Aman Anak Menonton TV dan Dampaknya bagi Kesehatan Mata

BI juga memutuskan BI 7-day (Reverse) Repo Rate turun 25 bps dari 5,50% menjadi sebesar 5,25% sejalan dengan rencana reformulasi suku bunga kebijakan yang telah diumumkan pada 15 April 2016.(Yuska Apitya/dtk/ed:Mina)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================