Mengenal Profil Manusia

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Ses­eorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirin­ya Tahu). Untuk model ini, bo­lehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah tertidur. Sikap kita kepadanya mem­bangunkan dia. Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemu­kan orang yang sebenarnya me­miliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun manusia ini suk­ses di dunia tapi rugi di akhirat.

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Se­seorang yang tidak tahu (tidak atau belum berilmu), tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu). Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tem­pat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan bela­jar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat.

BACA JUGA :  MBG: KETIKA TUJUAN MULIA TERCEDERAI

Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu). Menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa menger­ti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikan­nya. Manusia seperti ini dini­lai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.

BACA JUGA :  MURID BERPRESTASI SAAT LIBURAN

Kualitas dan nilai manusia akan terkuak bila manusia me­miliki kemampuan untuk men­garahkan naluri bebasnya ber­dasarkan pertimbangan aqliah yang dikaruniai Allah kepadan­ya dan dibimbing oleh cahaya iman yang menerangi nuranin­ya yang paling murni. Wallahu ‘alam bish Showab.

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================