Sri Mulyani: Ekonomi Indonesia Genting

Menurut Ani, sapaan akrabnya, ketimpangan di Indonesia banyak ditentukan oleh hal-hal yang di luar kendali pihak yang lemah secara eko­nomi. Dengan kata lain, ketimpangan tidak hanya sekadar dari kesenjangan pendapatan, tetapi juga berasal dari ketimpangan peluang.

Ia merinci, berdasarkan penelitian Bank Dunia, sepertiga dari ketimpa­ngan di Indonesia disebabkan oleh empat faktor pada saat seseorang la­hir yaitu provinsi tempat lahir, tempat lahir di desa atau di kota, peranan ke­pala keluarga, dan tingkat pendidikan orang tua. “Anak-anak Indonesia yang lahir dengan ketimpangan tersebut akan sulit mengatasi ketimpangan di masa depannya,” ujar Managing Di­rector merangkap Chief Operating Of­ficer Bank Dunia ini.

Lebih lanjut, Ani meminta keti­dakadilan tersebut segera diatasi sehingga di mana pun seorang bayi lahir, bayi tersebut berhak mendapat­kan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pelayanan dasar. Oleh karenanya, pemerintah perlu melakukan pemer­ataan dalam memberikan layanan kesehatan, pendidikan, serta fasilitas dasar di seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  Rangkaian HJB ke-544, Gowes Napak Tilas Ajak Warga Menyusuri Sejarah dan Alam Bogor

“Cita-cita Indonesia adalah wher­ever you’re born, di mana saja kalian lahir, di provinsi mana, di desa atau di kota idealnya bisa mendapatkan lay­anan kesehatan, pendidikan, dan ba­sic services sehingga bisa menjadi bayi yang sehat dan mampu tidak han­ya mengurus diri sendiri tetapi juga berkontribusi kepada masyarakat,” ucapnya.

Ketimpangan Gender

Selain itu, Ani juga meminta Pemer­intahan Joko Widodo (Jokowi) untuk mengatasi ketimpangan yang dialami oleh perempuan dan anak perem­puan. Menurutnya, Indonesia belum memanfaatkan secara optimal poten­sinya terkait ketenagakerjaan yang melibatkan semua penduduk, baik perempuan dan laki-laki.

Sebagai ilustrasi, hanya 51 persen perempuan Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas yang menjadi bagian dari tenaga kerja. Rasio ini lebih ren­dah dari rata-rata Asia Timur dan Pa­sifik, yaitu 63 persen. Sementara, par­tisipasi tenaga kerja laki-laki mencapai lebih dari 80 persen.

BACA JUGA :  Manfaat Minyak Zaitun untuk Wajah: Bantu Melembapkan hingga Lindungi Kulit

Selain itu, menurut laporan terkini Global Gender Gap oleh World Eco­nomic Forum, Indonesia menduduki peringkat 114 dari 145 negara terkait tingkat partisipasi dan peluang per­ekonomian perempuan. Padahal, ket­impangan peluang perempuan dan anak perempuan berdampak pada kemajuan perekonomian.

“Ketimpangan peluang bagi perempuan dan anak perempuan ber­dampak langsung pada peluang eko­nomi mereka dan, secara tidak lang­sung, kemampuan untuk mengambil keputusan yang bisa memengaruhi kehidupan mereka dan keluarga mer­eka,” ujarnya.

(Yuska Apitya Aji/ed:Mina)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================