Asap Dan Dan Krisis Ekologis

Cara itu sangat umum di­lakukan oleh pihak pribadi dan koorporasi karena cepat dan murah. Tanpa mempertim­bangkan banyaknya asap yang naik ke udara. Kebaran hutan dan lahan tadi menyebabkan kita mengalami krisis ekologi dalam waktu yang panjang. Ke­hilangan satu tumbuhan menye­babkan banyaknya oksigen yang hilang saat itu. Hutan Sebagai pemasok utama oksigen harus­lah dilestarikan.

Kebakaran hutan merugi­kan banyak orang dan makhluk hidup karen banyak pohon yang terbakar. Setiap pohon yang hidup bisa menghidupi dan me­masok kebutuhan oksigen orang dewasa. Dengan kebaran hutan maka berapa banyak manusia yang haknya tidak dipenuhi. Karbondioksidapun akan me­ningkatnya karena pembakaran lahan dan hutan. Hutan minim sehingga sulit menetralkan gas emisi seperti CO2.

Peningkatan gas CO2 dialam menyebabkan minus oksigen. Manusia yang menghirup ter­lalu banyak karbondioksida akan melemahkan fungsi tubuh. Gas emisi tadi masuk ke tubuh melalui pernafasan dan masuk kedalam darah. Secara lang­sung gas emisi tadi bertambah banyak diudara dan berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Perubahan iklim juga terjadi aki­bat hilangnya hutan. Gas emisi yang tidak dinetralkan akan me­ningkatkan suhu.

Peningkatan suhu dialami se­bagai penyebab utama terjadin­ya perubahan suhu secara lokal dan global. Secara langsung akan mempengaruhi pola hujan. Hujanpun tidak lagi sesuai den­gan jadwal. Pengendalian ben­cana ekologispun semakin sulit dilakukan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, peluasan kebun sawit perlu di­hentikan. Lakukan peningkatan inovasi kebun. Mulai dari peng­gunaan benih yang lebih bermu­tu sehingga setara antara lahan yang sempit dan luas.

BACA JUGA :  Bogor Kota, Sudahkah Tertata?

Kedua, atur tata ruang ekol­ogis yang baik. Kawasan hutan harus disedikan minimal 20-30 persen dari total luasan wilayah daerah. Kawasan itu berfungsi sebagai daerah resapan air, pengatur suhu, dan mengenda­likan banjir. Ketiga, pemetaan daerah rawasan titik panas se­hingga diketahui daerah mana yang rawan. Pemerintah jangan sampai kecolongan. Keempat, memperluas kawasan hijau pada kota-kota yang rawan titik panas. Kawasan hijau tadi akan menyerap gas emisi sehingga kualitas oksigen masih bisa di­pertahankan pada saat terjadi kebakaran hutan.

Kelima, mitigasi asap dan ke­baran hutan harusnya mengir­imkan tentara atau pihak militer ke daerah pada daerah rawan titik panas. Tujuannya untuk menyelidiki apakah ada ket­erlibatan pemerintah daerah, warga dan perusahaan dalam membakar hutan. Jika ada pi­hak-pihak ini harus dihukum te­gas sehingga menimbulkan efek jera kapada orang lain. Keenam, alat-alat seperti pemadam keba­karan harus dipastikan sudah bersiaga pada daerah dengan titik panas yang banyak.

BACA JUGA :  HARUSNYA ORANG INDONESIA PERILAKUNYA SESUAI DENGAN SILA-SILA YANG ADA DI PANCASILA

Antisipasi harusnya dilaku­kan sebelum terjadi kebakaran hutan. ketujuh, perlu kerjasama dan komitmen yang optimal daerah dan pusat untuk bersin­ergi mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Selama ini belum nampak bagaimana tugas mas­ing-masing dinas dalam menga­tasi kebakaran hutan dan lahan. Dinas kehutanan harus bersin­ergi denganb lingkungan. Dinas itupun harus bersinergi dengan balai bencana alam. Mitigasi bencana ini yang kurang pada daerak kita. Antisipasi dan miti­gasi biasanya baru dilakukan pada saat sudah terjadi keba­karan hutan dan lahan. Itupun dilakunnya tidak maksimal. Masih lagi terulang pada tahun berikutnya.

Kedelapan, lakukan pem­berdayaan kepada masyarakat sekitar kebun dan hutan. Pem­berdayaan ini bermaksudkan untuk memberikan dan mem­batasi kepada masyatakat untuk memperluas kebun. Tumbuh­kan usaha yang sekiranya men­dukung usaha untuk penghidu­pan masyarakat. Tujuannya agar mereka tidak menggerogo­ti hutan sedikit demi sedikit un­tuk keperluan bertani. Pemer­intah tidak bisa mengendalikan pembakaran hutan dengan mengerahkan tenatara dan pi­hal militer saja tanpa memberi­kan solusi kepada masyarakat.

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================