Freddy Tinggalkan Bom Waktu

Sedang soal cerita Freddy Bu­diman ke Haris, menurut Sitinjak, semua yang ada di Lapas Nusakam­bangan tahu cerita Freddy itu. Karena Freddy memang cerita ke mana-ma­na. “Semua napi tahu cerita Freddy Budiman itu, jadi ya sudahlah ya,” tegas dia.

Saat Freddy bertemu Haris itu Sitinjak tahu karena memang dalam pengawasan dia. Freddy saat itu su­dah mengarah lebih relijius. “Saya se­lama di sana memanggil Freddy tiga kali. Saya katakan ke dia, saya tidak butuh uang kamu. Di masa sisa hidup kamu jadilah manusia, saya butuh kamu jadi orang baik,” tegas Sitinjak ke Freddy.

Sosok Sitinjak ini memang dikenal memiliki catatan bagus. Dia ditunjuk Denny Indrayana yang saat itu men­jadi Wamen untuk membenahi LP Nusakambangan. Sitinjak dikenal me­miliki integritas dan tidak kompromi.

“Saya masuk LP Nusakambangan saya berlakukan aturan ketat. Saya razia melibatkan Kodim dan Polres Cilacap. Saya bongkar dapur pribadi milik terpidana teroris, saya bakar freezer milik terpidana narkoba dari Afrika, saya sita springbed milik napi dan saya bakar. HP juga saya sita dan saya bakar. Saya lakukan itu untuk menegakkan UU. Saya melarang petu­gas membawa Napi ke ruangan saya untuk bertemu, kalau mau bertemu di ruang pembinaan dan dihadiri be­berapa orang,” tegas dia.

BACA JUGA :  Piala AFF 2026 Jadi Ajang Pembuktian Kualitas Pemain Domestik Racikan John Herdman

Sitinjak mengaku sikap tegas dia berlaku pada semua termasuk Freddy. Dia menyikat narkoba dan melakukan razia rutin di LP Nusakambangan.

Lalu pernahkah ada pejabat BNN atau Polri atau penegak hukum lain­nya datang bertemu Freddy? “Saya waktu itu di luar, ada staf saya menel­epon ada orang dari BNN datang menemui Freddy. Seingat saya yang lapor ke saya cuma sekali, dan saya ti­dak tahu apa pertemuannya, apakah pemeriksaan atau apa,” kata Sitinjak.

Bea Cukai Juga

Bea Cukai memberi tanggapan terkait pengakuan Freddy Budiman ke aktivis KontraS Haris Azhar. Dalam pengakuannya Freddy juga menyebut ada oknum Bea Cukai yang menitip harga ekstasi.

BACA JUGA :  Ilmuwan Ungkap Afrika Berpotensi Terbelah, Retakan Raksasa Bisa Picu Samudra Baru

Freddy sudah dieksekusi mati atas kepemilikan 1,4 juta ekstasi. Dalam penuturan ke Haris pada 2014 lalu di Nusakambangan, Freddy mengaku ekstasi yang dia dapat per butirnya dari China Rp 5 ribu, tapi kemudian dia jual Rp 200 ribu per butir di Indo­nesia. Namun, ada juga setoran yang dia berikan salah satunya oknum Bea Cukai dengan bentuk titip harga an­tara Rp 10-20 ribu per butir.

Menanggapi pengakuan Freddy ke Haris itu, Direktur Kepabeanan Inter­nasional dan Antar Lembaga dari Bea Cukai, Robert Marbun, menegaskan bahwa pihaknya selalu melakukan pengawasan ketat atas arus lalu lintas masuk barang “Pengawasan secara op­timal terhadap lalu lintas keluar masuk barang barang ilegal termasuk narkoti­ka,” jelas Robert, Jumat (29/7/2016).

“Dan apabila masyarakat memi­liki informasi terkait penyelundupan narkotika agar disampaikan segera kepada kami untuk segera kami tin­dak lanjuti,” tegas dia. (*)

 

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================