
Pertanyaan ketiga terkait penyeÂbab kemacetan di Kota Bogor pun tak terelakan di kegiatan Raimuna dari siswa kelas XI SMAN 3 Kota BoÂgor Salsabilah Fatimah. Bima pun memberikan jawaban kembali denÂgan sebuah perumpamaan. MenÂgatasi kemacetan itu seperti memÂbenahi gula dari semut. Jadi yang diatur yakni gulanya bukan semutÂnya kalau gulanya banyak semua akan tetap ada. Pada jaman dahulu, Kota Bogor hanya di desain untuk 200 ribu orang tetapi sekarang suÂdah meningkat menjadi 1 juta jiwa. Belum lagi setiap weekend didatanÂgi ratusan ribu orang dari luar kota dan semua kegiatan berpusat di kota.
“Kedepan angkot akan diganti dengan bus transpakuan yang nyaÂman,†tambah Bima.
Di sesi kedua, Yusril maulana, siswa kelas X SMAN 4 Kota Bogor meminta sebuah motivasi agar mempunyai semangat patriotisme.
Menurut Bima, hidup harus selalu menginspirasi dan termotiÂvasi. Semua orang besar dan sukÂses adalah orang yang termotivasi dan terinspirasi dari sang idola. Jika ingin menjadi orang hebat, harus mempunyai roll model dari orang – orang baik yang sudah berfikir jauh ke depan.
“Patriotisme hanya akan tumÂbuh jika banyak baca buku baik dari orang yang sudah tidak ada atauÂpun yang masih ada,†ungkap Bima
Pertanyaan kelima dilontarkan Mohamad Erlangga siswa kelas XI SMK YKTB terkait pelarangan Saur On The Road (SOTR). Pertanyaan tersebut mengingatkan kembali atas kejadian aksi tawuran berkedok SOTR di bulan Ramadhan yang semÂpat membuat Bima miris. Pasalnya kegiatan tersebut tidak bisa dibedaÂkan antara saur atau tawuran. Tak ayal, dirinya bersikap tegas terhaÂdap siswa yang tawuran akan mengÂhukumannya dengan tindak pidana.
“Pemerintah pun tidak diam beÂgitu saja, Pemkot Bogor memikirkan supaya anak – anak tidak berkegÂiatan negatif dengan membangun taman sebagai tempat berbagai keÂgiatan positif,†ingat Bima.
Dipertanyaan terakhir, Bima diberikan pertanyaan tentang bagaimana menghadapi hatters, dari M. Ziyad Musyaffa siswa kelas X SMAN 5 Kota Bogor. Tanpa banÂyak berpikir, Bima menegaskan agar tetap menjadi diri sendiri dan perÂcaya diri. Karena tidak mungkin bisa menyenangkan hati semua orang. Tak lupa ia mengingatkan kepada seluruh anggota pramuka yang berÂcita – cita menjadi pemimpin jangan tumbang karena cacian dan jangan terbang karena pujian biasa – biasa saja.
“Kuncinya setiap langkah dan perbuatan dilakukan ikhlas bukan penghargaan dan pujian dari manuÂsia tapi mengharapkan Ridho dari ALLAH SWT itu saja,†pungkas Bima menutup dialog.(Yuska Apitya/*)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















