Halal Bi Halal, Cara Orang Indonesian Berkumpul Dan Saling Memaafkan Dalam Kesempatan Idul Fitri

Sementara itu, Drs. H. Ibnu Dja­rir dari MUI Jawa Tengah menjelas­kan sejarah atau asal pertemuan ini terdiri beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Istana Mangkunegara di Surakarta, tradisi Halal Bi Halal awalnya dip­elopori oleh KGPAA Mangkunegara I (Sultan Solo), yang dikenal juga sebagai Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, setelah salat Idul Fitri pertemuan khusus diadakan antara Raja (Sultan) dengan pung­gawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

BACA JUGA :  Emotional Security dalam Hubungan: Kunci Agar Cinta Tetap Harmonis dan Bertahan Lama

Semua punggawa dan prajurit dengan teratur memberikan hormat kepada Raja dan Ratu (baca: Sung­kem kepada Raja dan Ratu). Cara berkumpul versi Pangeran Samber­nyawa kemudian ditiru oleh semua organisasi Islam, dan kemudian dikenal luas sebagai acara Halal Bi halal.

Demikian juga, pertemuan itu diadakan oleh alumni SMAN 28 Jakarta pada hari Sabtu, 30 Juli 2016. Halal Bi Halal menyatukan alumni dari 12 kelas setelah pulu­han tahun dipisahkan oleh jarak dan waktu, hari bahagia itu akh­irnya tiba. Teman, sahabat berte­mu satu sama lain dalam perasaan haru dan gembira; senda gurau, menyanyikan lagu-lagu nostalgia, tertawa senang, semuanya larut dalam kebahagiaan. Jutaan bulan telah memudar, 379 Purnama telah berlalu. Kerinduan untuk yang ter­cinta telah terobati, teman sejati telah kembali.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================