
Muhadjir mengatakan, program jam belajar sehari penuh ini akan dikombinasikan dengan kegiatan-kegiatan di luar kelas. Tujuannya agar para siswa tidak terbebani seÂcara psikologis dengan mengikuti program belajar yang hanya di ruang kelas. “Nanti kita ubah jadi betul-betul sehari penuh ada proses pemÂbelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Jadi tidak sepenuhnya ada di dalam kelas. karena secara psikologis kita tahu psikologis daya tahan anak tahannya hanya berapa jam tidak mungkin. Tapi di luar nanti mereka bisa bergembira belajar berÂbagai macam hal di situ kan. (Bagi) yang mau meningkatkan mengajinya ya panggil aja ustaz, kan tidak usah kita kursus ke luar. yang (belajar) baÂhasa Inggris juga begitu, kita panggil mentor bahasa Inggris jadi suasana akan lebih menggembirakan lah. Kita ingin menciptakan sekolah yang menggembirakan,†tutur Muhadjir.
Menurut Muhadjir, program sekoÂlah sehari penuh dimaksudkan unÂtuk menguatkan program nawacita di bidang pendidikan. Para guru nantinya mengisi jam belajar denÂgan memberikan materi mengenai pendidikan karakter kebangsaan.
Program karakter kebangsaan tersebut ditegaskan Muhadjir meÂmang harus dibentuk sejak dini di sekolah. “Beliau (Wapres JK) meÂnyarankan ada semacam pilot projÂect dulu untuk ngetes pasar dulu. Tapi Beliau juga sudah menegaskan bahwa apa yang saya sampaikan juga sudah dipraktikkan oleh banyak sekolah khususnya sekolah swasta dan itu memang betul dan justru saya banyak diilhami oleh banyaknya sekolah swasta yang menyelenggaraÂkan full day school (FDS),†ujar dia.
Muhadjir menyebut ada ‘kerÂawanan’ dengan waktu kosong usai pulang pada siang hari. “Sekarang kan anaknya pulang jam 1 sementara orangtuanya pulang jam 5. Antara jam 1 sampai jam 5 anaknya malah kita enggak tahu siapa yang bertangÂgung jawab karena sekolah juga suÂdah melepas sementara keluarga juga belum ada. Justru ini yang saya duga terjadi penyimpangan penyimpanÂgan yang dilakukan oleh remaja celah ini ketika tidak ada satu pun orang yang bertanggung jawab ini, karena orangtuanya masih bekerja sekoÂlah sudah melepas dia,†imbuhnya.
Dikonfirmasi, Kepala Dinas PenÂdidikan (Disdik) Kota Bogor, Edgar Suratman, menyebut, gagasan ini perlu dikaji dengan matang. “JanÂgan sampai, pelajar bukannya malah konsen belajar malah tidur di kelas karena kecapaian. Kami sepakat jam dipadatkan, tapi dengan berbagai pertimbangan,†kata dia, kemarin.
(Yuska Apitya Aji)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















