Garuda Indonesia Rambah Amerika

Untitled-1JAKARTA, TODAY—Indonesia mendapatkan kenaikan peringkat untuk keselamatan dan keamanan penerbangan dari Federal Aviation Administration (FAA) ke kategori 1. Sebelum­nya Indonesia hanya di peringkat 2 yang be­rarti keselamatan dan keamanan penerbangan Indonesia belum masuk standar internasional.

Dengan adanya kenaikan peringkat tersebut, maskapai dalam negeri yaitu PT Garuda Indonesia Tbk, tengah melirik rute penerbangan Indonesia-Amerika Serikat dan seba­liknya. Pengajuan izin rute pen­erbangan ke negeri Paman Sam tersebut juga tengah diproses di Kementerian Perhubungan seiring dengan keluarnya izin tertulis dari FAA. “Pertama pesawat kita bisa terbang ke Amerika Selatan karena stan­dar keselamatan penerbangan. Garuda Indonesia berminat dan saat ini sedang proses,” kata Dirjen Perhubungan Uda­ra, Suprasetyo, di Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing.

Suprasetyo menambah­kan, maskapai milik negara tersebut meminati dua rute penerbangan ke Amerika Seri­kat, yaitu New York dan Los Angeles. Dua kota tersebut menjadi pilihan lantaran ban­yaknya permintaan penerban­gan dari Indonesia ke kota tu­juan tersebut. “Diminati New York sama Los Angeles. Ter­gantung nanti pesawatnya, ka­lau mampu ya bisa direct flight (penerbangan langsung),” tu­tur Suprasetyo.

Proses kenaikan peringkat penerbangan dari FAA sudah di­upayakan sejak 2015 silam. Na­mun, kenaikan peringkat dari FAA ke katogori 1 baru didapat­kan di tahun ini. Izin dari FAA untuk maskapai Indonesia yang ingin melayani penerbangan ke AS akan keluar pada 20 Agustus 2016 mendatang. “Jadi sejak ta­hun 2007 Indonesia dari hasil audit FAA masuk ke kategori 2. Artinya tidak memenuhi stan­dar keselamatan penerbangan internasional. Satu setengah tahun kita perbaiki. Pada 20 Juli lalu mereka (FAA) mengatakan kita sudah comply memenuhi standar penerbangan interna­sional. Tinggal menunggu pen­gumuman FFA, mereka bilang satu bulan dari 20 Juli,” tutup Suprasetyo.

BACA JUGA :  Harga Minyak Dunia Berbalik Naik, Ketegangan Timur Tengah Kembali Picu Kekhawatiran Pasar

Garuda Indonesia meng­kaji penerbangan ke Amerika Serikat (AS). Untuk meng­hadapi pengumuman itu, Ga­ruda Indonesia menyiapkan pesawat berbadan lebar mi­liknya, yakni Boeing 777-300 ER sebanyak 2 unit. “Kita se­dang kalkulasi. Kalau benar, kita butuh 2 pesawat jenisnya Boeing 777,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Wibowo, Senin (8/8/2016).

Pesawat jenis ini termasuk armada terbaru milik Garuda Indonesia. “Kita 12 tahun ke depan masih mau pakai Boe­ing 777,” sebutnya.

Dihimpun dari situs Ga­ruda Indonesia, pesawat tipe ini mampu terbang dengan jarak tempuh 13.520 km. Pe­sawat berbadan lebar ini bisa membawa penumpang den­gan rincian 8 penumpang first class, 38 penumpang busi­ness class dan 268 penump­ang economy class. Saat ini, Garuda telah mengoperasikan 9 unit Boeing 777-300ER.

Tahap awal, Garuda In­donesia akan memanfaatkan aliansi penerbangan yang telah terjalin di dalam SkyTeam. Di sini, terdapat maskapai asal AS yakni Delta Airlines sebagai anggota SkyTeam. “Step per­tama, selama ini SkyTeam alli­ance Garuda punya kerja sama contoh sekarang penerbangan Jakarta-Tokyo ke AS, kita bisa co-share ke AS. Kita share Del­ta Airlines tapi Delta (maskapai AS anggota dari SkyTeam) ng­gak bisa taruh co-share ke Jakarta (adanya larangan ter­bang). Dengan kategori 1 (bo­leh terbang ke Indonesia) ini memungkinkan semua US Car­rier yang menjalin kemitraan dengan kita, bisa taruh pener­bangan Garuda,” ujar Arif.

BACA JUGA :  Sering Sembelit Meski Sudah Banyak Makan Serat? Ini 6 Penyebab yang Perlu Diwaspadai

Langkah berikutnya, mas­kapai pelat merah Indonesia ini sedang mengkaji melakukan penerbangan langsung tanpa memakai kerja sama dengan maskapai yang tergabung dalam SkyTeam. Pengkajian akan dilakukan dengan sangat ketat. “Masalah penerbangan ke AS harus dihitung lebih cermat. Ini penerbangan jarak jauh maka harus dihitung cer­mat. Ke depan, jangan membe­bani Garuda,” sebutnya.

Untuk penerbangan lang­sung, Arif mengaku pihaknya akan menyiapkan 2 pesawat jen­is Boeing 777 yang telah dimiliki. Opsi penerbangan kemungkinan tidak direct flight atau langsung, melainkan harus transit. Hal ini memperhatikan kemampuan landasan bandara-bandara di In­donesia untuk melayani direct flight dengan beban maksimal. “Direct flight-nya harus dengan one transit,” tambahnya.

(Yuska Apitya/dtk)

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================